BeritaSeo: Infrastruktur

Dunia Heboh! Helikopter Buatan Indonesia Mampu Hancurkan Kapal Selam, Hebat!

Jakarta, Lensaberita.Net - Helikopter Anti Kapal Selam jenis AS565 MBe Panther rancangan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Airbus Helicopter, akan dilengkapi sistem peluncuran torpedo. Dengan adanya torpedo, heli bisa menghancurkan kapal selam musuh.

Ilustrasi/cupuma
"Buat menembak kapal selam," kata seorang karyawan PTDI kepada detikFinance, Senin (18/4/16). 

Helikopter ini nantinya akan dipasang 1 unit torpedo. Untuk mengoperasikan sang pemburu kapal selam ini, heli Panther ini akan dioperasikan oleh 3 personel. Dua personel bertugas sebagai pilot dan co-pilot, sedangkan 1 orang bertugas sebagai operator persenjataan.

Peralatan pemburu pun terbilang canggih karena memakai teknologi sonar terbaru, Helicopter Long-Range Active Sonar (HELRAS).

"Sonar ini canggih. Ini untuk penuhi permintaan Angkutan Laut yakni untuk jarak jangkau paling jauh," tambahnya. (detikcom)

Pemkab Blora Segera Bangun Jembatan Kendayaan Yang Putus Tergerus Longsor

Jembatan di RT 02 RW 01 Desa Kendayaan Kecamatan Ngawen yang ambrol terputus akibat longsor pada Rabu (24/2) lalu. Pemkab akan segera membangunnya kembali melalui DPU. (foto: teg-infoblora)
BLORA. Pemkab Blora melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) akan segera melakukan pembangunan jembatan di Desa Kendayaan Kecamatan Ngawen yang putus tergerus longsor pada 24 Februari lalu akibat derasnya arus sungai. Tidak hanya jembatan, tanggul sungai juga akan diperkuat agar tidak longsor lagi, dimana sebelumnya sudah longsor dan mengancam 3 rumah warga. Hal tersebut diungkapkan Plt Kepala DPU Blora, Bondan Sukarno kemarin.

“Ini termasuk bencana alam dan sudah dilapori oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Nanti anggarannya akan diambilkan dari APBD 2016. Secepatnya akan dilakukan pembangunan jembatan lagi tahun ini. Warga saya harap bersabar, karena pembangunan baru bisa dilakukan dengan maksimal ketika musim kemarau tiba,” ucapnya.

Diketahui bersama, jembatan penghubung wilayah pedesaan di Desa Kendayaan Kecamatan Ngawen ini ambrol dan putus tergerus longsor pada 24 Februari lalu. Jembatan yang berada di RT 02 RW 01 ini ambrol sepanjang 8 meter dan lebar 4 meter. Akibatnya semua jenis kendaraan bermotor tidak bisa melintas, sehingga warga terpaksa memutar jauh ketika ingin menuju ke pusat Kecamatan.

Selain memutuskan jembatan, longsor yang terjadi di tanggul sungai dekat jembatan juga mengancam 3 rumah warga. Beberapa hari lalu para relawan bersama anggota Polsek Ngawen, Koramil dan BPBD telah membuat tanggul darurat dengan karung berisi tanah yang diperkuat dengan trucuk bambu sebagai penanggulangan sementara. (ag-infoblora)

Kunjungi Desa Gempol, Bupati Ajak SKPD Susun Pembangunan Blora Selatan

Bupati Blora H.Djoko Nugroho (lurik coklat) di emperan SDN 1 Selogender berdialog dengan warga Desa Gempol Kecamatan Jati didampingi para kepala SKPD untuk merencanakan pembangunan Blora Selatan. (foto: ain-infoblora)
BLORA. Komitmen pasangan Bupati H.Djoko Nugroho dan Wakil Bupati H.Arief Rohman M.Si untuk fokus melakukan pembangunan di wilayah Blora Selatan yang masih tertinggal karena banyak yang tinggal di dalam kawasan hutan seperti Kecamatan Jati, Randublatung, Kradenan hingga Kedungtuban nampaknya mulai dilakukan.

Seperti yang dilakukan Pak Kokok (sapaan akrab Bupati Djoko Nugroho) pada Selasa (1/3) bersama-sama dengan beberapa kepala SKPD melakukan kunjungan kerja ke desa pelosok hutan yang berada di Kecamatan Jati (Doplang), tepatnya di Dukuh Bendokerep Desa Gempol untuk menjaring aspirasi warga pedalaman hutan.

Bertempat di halaman SDN 1 Selogender Dukuh Bendokerep, Desa Gempol, Bupati Kokok ditemani Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bondan Sukarno, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Samgautama Karnajaya, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan (Dintanbunakikan) Reni Miharti, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Ahmad Wardoyo, Kepala Dinas Kesehatan dr.Henny Indriyanti serta Dandim 0721 Blora, melakukan jaring aspirasi warga untuk merancang pembangunan.

Bupati Kokok di emperan SD N 1 Selogender menjaring aspirasi warga
terkait perencanaan pembangunan desa di wilayah hutan menuju pusat kecamatan.
(foto: ain-infoblora)
Hadir dalam acara tersebut jajaran Muspika Kecamatan Jati, Kepala Desa Gempol, Kepala Desa Getas, Kepala Desa Kalikangkung, Kepala UPTD TK SD Kecamatan Jati beserta ratusan warga setempat. Mereka menyampaikan aspirasi masing-masing kepada Bupati dan kepala SKPD terkait tentang usulan pembangunan infrastruktur, pendidikan hingga kesehatan.

“Alhamdulilah kita masih diberikan kesehatan oleh Allah SWT, sehinga kita semua bisa bertemu disini dalam keadaan sehat. Dengan kunjungan ini, saya ajak semua kepala SKPD terkait agar bisa langsung merasakan bagaimana kehidupan di wilayah hutan yang perlu diperhatikan extra. Saya bawa kepala dinas terkait, silahkan bapak semua hadirin disini ngudoroso, sampaikan aspirasi untuk pembangunan desa ini,” ucap Bupati Kokok.

“Saya akan bangun akses jalan utama di wilayah desa ini hingga kecamatan. Sehingga akses jalan menuju antar desa bisa bagus dan masyarakat bisa menikmati pembangunan. Pemkab juga akan bangun fasilitas sekolah SD, perbaikan gedung sekolah dan sarana penunjang seperti perpustakaan dan perbaikan ruang kelas,” lanjutnya.

Dirinya berjanji semua saran dan aspirasi warga desa akan ditampung dan akan diwujudkan demi terciptanya pembangunan yang merata di Kabupaten Blora. Khusus di bidang pertanian, Pemkab akan memberikan bantuan traktor untuk 3 kelompok tani dan juga mesin pengering jagung karena daerah tersebut termasuk daerah penghasil jagung. Sedangkan di bidang kesehatan, akan dibangunkan Poliklinik Desa agar pelayanan kesehatan bisa maksimal, karena jarak Puskesmas di Kecamatan cukup jauh dari desa. (rs-infoblora)

Rumah Warga Desa Kendayaan Kec.Ngawen Terancam Amblas Akibat Longsor

Salah satu rumah warga Desa Kendayaan yang terancam amblas karena longsor. Warga secara swaday membangun tanggul darurat dari karung berisi tanah yang diperkuat dengan potongan batang bambu. (foto: teg-infoblora)
BLORA. Hujan lebat beberapa hari terakhir di wilayah Desa Kendayaan Kecamatan Ngawen yang membuat jembatan ambrol dan memutus jalan desa seperti diberitakan info Blora sebelumnya, ternyata juga mengancam keberadaan beberapa rumah warga yang hampir amblas tergerus longsor oleh derasnya arus sungai.

“Selain jembatan ambrol dan jalan terputus, ada 3 bangunan rumah warga disini yang juga terancam amblas akibat tergerus longsor oleh derasnya arus sungai. Karena peristiwa ini, warga menjadi was-was dan takut jika hujan deras kembali datang dan sungai berarus deras lagi,” kata Siti (35) warga setempat, saat ditemui info Blora, Sabtu (27/2) kemarin.

Menurut penjelasannya, untuk mengantisipasi agar 3 rumah yang terancam amblas tergerus longsor tersebut tidak ambruk, sejumlah warga dibantu anggota TNI dari Koramil dan Polsek Ngawen beberapa hari lalu membantu membuat tanggul sementara untuk menahan tanah agar longsor tidak terjadi lagi.

Sementara itu Suwarno (45) salah satu warga yang terancam longsor mengaku terpaksa harus masih menempati rumahnya lantaran tak ada lahan lain untuk memindahkan harta bendanya tersebut.

“Sudah ada 1 warga yang memindahkan rumahnya karena takur kena longsor yang semakin besar, tetapi saya masih bertahan lantaran tak ada lahan lain untuk memindah rumah. Agar longsor tak semakin parah, dengan dibantu para tetangga buat tanggul dari karung berisi tanah yang dengan penahan batang bambu,” jelasnya.

Dari kejadian ini Suwarno berharap agar pemerintah kabupaten melalui dinas terkait bisa memberikan bantuan penanggulangan terhadap bencana yang dihadapi warga di Desa Kendayaan tersebut.

“Sebab selain was-was untuk menempati rumah yang terancam longsor, jembatan yang longsor juga membuat aktifitas warga terganggu. Kami harap pemerintah bisa cepat mengambil sikap untuk bisa membuatkan tanggul dan membenahi jembatan yang merupakan akses utama para warga untuk melakukan aktifitas sehari-hari,” harapnya. (teg-infoblora)

Jembatan Ambrol, Jalan Akses Warga Desa Kendayaan Kec.Ngawen Terputus

Jembatan ambrol, akses jalan Desa Kendayaan Kecamatan Ngawen terputus. Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan kembali. (foto: teg-infoblora)
BLORA. Hujan lebat yang turun beberapa hari belakangan ini di wilayah Kecamatan Ngawen membuat jembatan utama yang berada di Desa Kendayaan ambrol tergerus arus deras. Bahkan ambrolnya jembatan utama menyebabkan jalan desa setempat terputus sehingga ada ratusan KK terputus akses nya untuk menuju desa lainnya.

“Setidaknya ada sekitar 700 KK yang tinggal di Desa Kendayaan yang terputus akses jalannya sehingga kesulitan untuk beraktivitas keluar desa, karena jembatannya amblas seperti ini sejak Rabu (24/2) lalu,” kata Siti (35), Sabtu (27/2) kemarin kepada pewarta info Blora.

Ia mengatakan untuk beraktivitas keluar masuk desa, warga terpaksa memutar, melewati jalur alternatif. Warga harus menempuh jarak lebih jauh, sekitar 10 Km jika dibanding melewati jalur utama.

“Kena banjir bandang, jembatan ambrol sehingga aktifitas warga jadi sulit seperti kalau ke pasar, warga lewatnya memutar lewat desa lainnya,” lanjut Siti.

Menurutnya, pasca ambrolnya jembatan kini aktifitas warga terganggu karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menuju pusat Kecamatan. “Kalau jalan kaki masih bisa, harus hati-hati melewati jalan yang amblas. Namun kalau kendaraan bermotor harus memutar jauh lewat desa lain,” ujarnya.

Hingga Sabtu (27/2) kemarin menurutnya belum ada dinas terkait yang meninjau ke lapangan untuk melakukan pendataan dan langkah penanggulangan terhadap ambrolnya jembatan yang memutus jalan warga.

“Sempat ada gotong royong membersihkan longsoran dari Polsek dan Koramil, namun belum maksimal. Perlu segera dilakukan pembangunan jembatan darurat agar akses warga bisa kembali berjalan normal. Alhamdulillah jika bisa dibangun secepatnya,” harapnya. (teg-infoblora)

Pembetonan Jalan Provinsi Ruas Kunduran-Ngawen-Blora Akan Dilanjutkan Kembali

Proyek pembetonan jalan provinsi oleh Bina Marga Jateng tahun 2015 lalu, kini akan dilanjutkan kembali di ruas Kunduran-Ngawen-Blora. (foto: tio-infoblora)
BLORA. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) melalui Dinas Bina Marga terus berupaya memperbaiki seluruh jalan provinsi yang ada di wilayahnya, tidak terkecuali Kabupaten Blora. Pada tahun 2016 ini pun sejumlah ruas jalan provinsi di Kabupaten Blora akan diperbaiki kembali, melanjutkan proses pembetonan yang telah dilakukan tahun 2015 kemarin.

Seperti yang dikemukakan Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Jateng wilayah Purwodadi-Blora, Ali Huda, bahwa tahun 2016 ini pihaknya akan kembali melaksanakan sejumlah proyek perbaikan dan peningkatan jalan provinsi yang ada di Kabupaten Blora.

“Kabupaten Blora untuk jalan provinsi ruas Kunduran-Ngawen-Blora akan dibeton lagi di beberapa titik tahun ini. Setidaknya akan ada rigid beton melanjutkan pekerjaan tahun kemarin, diantaranya di Desa Jagong Kecamatan Kunduran, dan Kelurahan Ngawen serta Desa Sarimulyo di Kecamatan Ngawen,” jelas Ali Huda, Jumat (26/2).

Menurutnya hingga saat ini proses lelang sudah selesai dilaksanakan di LPSE Provinsi. Setelah lelang selesai dikerjakan, maka proyek perbaikan jalan akan bisa segera dilaksanakan. “Setidaknya bulan Maret nanti sudah bisa dimulai pekerjaan fisiknya,” lanjut Ali Huda.

Tidak hanya ruas Kunduran-Ngawen-Blora, jalan provinsi ruas Todanan-Japah-Ngawen pada tahun 2016 ini juga akan diperbaiki Bina Marga Jateng. “Untuk Todanan-Japah-Ngawen akan ada pekerjaan rigid CTB overlay dua lapis,” ujarnya.

Sedangkan jalan provinsi di wilayah Blora Selatan seperti diberitakan info Blora beberapa hari lalu, mulai Singget-Randublatung-Kedungtuban hingga Cepu juga akan dilanjutkan perbaikannya dengan sistem beton. Yakni di ruas Singget-Gabusan-Doplang, Randulawang-Plosorejo (Randublatung), dan Nglandeyan (Kedungtuban). (ag-infoblora)

Lokasi Dipindah ke Kawasan Gabus, Pembangunan Pasar Blora Ditunda 2017

Kepala Disperindagkop UMKM Kabupaten Blora. (foto: tq-infoblora)
BLORA. Rencana pembangunan Pasar Induk Blora yang sebelumnya sudah disosialisasikan akan dilakukan tahun 2016 ini, ternyata kini ditunda pengerjaannya hingga tahun 2017 mendatang. Pasalnya Bupati Blora, H.Djoko Nugroho menghendaki lokasi Pasar Blora dipindah ke Jl.MR.Iskandar kawasan Gabus Kelurahan Mlangsen.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disperindagkop UMKM) Kabupaten Blora, Maskur saat dihubungi, Kamis (25/2).

“Karena Pak Bupati menghendaki lokasinya dipindah di area yang lebih luas, maka Pasar Blora akan dipindah ke kawasan Gabus dan pembangunannya ditunda 2017. Kami akan menggelar sosialisasi lagi kepada para pedagang,” ucap Maskur, Kamis (25/2).

Menurutnya, Pak Kokok (sapaan akrab Djoko Nugroho) menginginkan Pasar Blora memiliki halaman yang luas untuk lahan parkir dan bongkar muat barang dagangan serta hasil bumi. Sedangkan lokasi Pasar Blora lama saat ini sudah tidak memiliki lahan parkir dan ruang bongkar muat, semuanya dilakukan di jalan raya yang rawan menimbulkan kemacetan arus lalu-lintas.

Disinggung tentang anggaran, Maskur menyatakan bahwa dana pembangunannya dari APBD Blora 2016 yang telah dianggarkan sebesar Rp 20 miliar. Sedangkan bantuan dari provinsi akan dikomunikasikan lagi agar bisa digunakan dalam pembangunan tahun 2017.

“Bantuan dari pusat, sementara akan dialihkan untuk melanjutkan pembangunan los di Pasar Ngawen terlebih dahulu,” ujarnya.

Ia menyatakan bahwa tahun 2016 ini baru akan dilakukan pendataan luas lahan di kawasan Gabus dan pengurukan tanah karena lahan di wilayah tersebut masih berupa persawahan sehingga perlu dipadatkan terlebih dahulu agar tidak lebih rendah dari jalan raya.

“Lahan di kawasan Gabus tersebut memang tanah milik Pemkab yang sebelumnya dijadikan lahan pertanian. Tahun ini dipadatkan dahulu, sedangkan pembangunan fisiknya akan dimulai 2017,” lanjut Maskur. (ag-infoblora)

Meski Jadi Jalan Nasional, Pemkab Blora Tetap Ajukan Perbaikan di Ruas Blora-Cepu

Meski jadi jalan nasional, ruas Blora-Cepu masih dijumpai beberapa kerusakan seperti yang ada di sekitar Jembatan Timbang Sambong. (foto: rs-infoblora)
BLORA. Meskipun pengelolaannya sudah tidak menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten dan Pemprov Jateng, Pemkab Blora melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) tetap melaporkan kerusakan jalan dan mengajukan perbaikan ruas jalan nasional Blora-Cepu ke Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) Jakarta.

Hal itu dilakukan karena setelah berubah menjadi jalan nasional sejak awal januari 2016 lalu, hingga kini masih banyak dijumpai kerusakan dan belum diperbaiki dengan maksimal oleh pihak terkait.

Seperti yang diungkapkan Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan DPU Kabupaten Blora, Nitzamudin Al Huda, mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pengajuan perbaikan jalan ke Kementerian PU melalui Bina Marga.

“Meski sudah jadi jalan nasional, namun kami sebagai dinas terkait di lingkup kabupaten akan tetap meminta perbaikan jalan di ruas Blora-Cepu sepanjang 34 kilometer. Jalan nasional sudah seharusnya diperbaiki diperkuat konstruksinya dan dilebarkan,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui pada tahun 2015 lalu ketika ruas Blora-Cepu masih berstatus sebagai jalan provinsi, Bina Marga Jateng telah melakukan pembetonan dan aspal hotmix di beberapa bagian. Namun belum semua ruas jalan tersentuh perbaikan, selebihnya hanya perawatan dengan tambal sulam.

Tahun ini dengan bergantinya status dari jalan provinsi menjadi jalan nasional, diharapkan perbaikan jalan bisa dilakukan oleh Kemen PU dengan peningkatan kelas konstruksi jalan.

Sementara itu Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Jawa Tengah Wilayah Purwodadi Ali Huda mengemukakan, setelah berubah status menjadi jalan nasional, penanganan jalur Blora-Cepu saat ini berada dalam kewenangan Kementerian PU melalui satuan kerja (satker) yang ada di daerah. Berdasarkan informasi yang diterimanya, jalan tersebut beberapa tahun kedepan akan dilebarkan.

” Tahun ini Kementerian Pekerjaan Umum (DPU) hanya menganggarkan dana untuk pemeliharaan rutin di jalur sepanjang 35 kilometer tersebut. Belum ada perbaikan konstruksi. Kemungkinan nanti baru dilakukan pada tahun 2017,” ujarnya. (tio-infoblora)

Wah..!! Diberi Tulisan Identitas, Alun-alun Blora Kini Semakin Cantik

Dua orang petugas sedang memasang tulisan identitas "ALUN-ALUN BLORA" pada Rabu pagi (24/2). (foto: rs-infoblora)
BLORA. Berbagai cara dilakukan DPU Blora Bidang Kebersihan dan Pertamanan untuk mempercantik taman kota di Kabupaten Blora, salah satunya pemasangan tulisan identitas “ALUN-ALUN BLORA” di sisi timur Alun-alun yang dilakukan pada Rabu (24/2) pagi tadi. Ruang publik terbesar di pusat Kota Blora ini pun kini menjadi lebih cantik.

Kepala Seksi Pertamanan Bidang Kebersihan dan Pertamanan DPU Blora, Langgeng Warsito saat ditemui di Alun-alun Blora mengatakan bahwa pemasangan tulisan identitas sebagai wujud untuk memperindah ruang publik tengah kota. “Selain untuk memperindah Alun-alun, tulisan ini juga menegaskan bahwa lokasi ini merupakan pusat Kota Blora,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa pemasangan tulisan “ALUN-ALUN BLORA” bukan merupakan proyek dari APBD Kabupaten tahun 2016. “Ini ide kami dan alhamdulillah ada pihak ketiga yang bersedia mendanainya. Sehingga kami sampaikan ke Pemkab dan disetujui,” lanjutnya.

Tidak hanya Alun-alun saja, menurutnya beberapa taman kota lainnya juga akan dipercantik. Seperti Taman Mustika yang berada di sisi timur Simpang 4 Tugu Pancasila, sejak beberapa hari dilakukan renovasi dengan memasang aksesoris ornamen batang kayu jati dan pemasangan papan nama baru berwarna merah putih.

Sedangkan renovasi taman kota yang menggunakan dana APBD 2016 tahun ini menurutnya adalah taman di pertigaan Bank BNI Kecamatan Cepu. “Untuk taman di pertigaan Bank BNI Cepu akan direnovasi dengan dana APBD 2016 sebesar Rp 200 juta,” ujar Langgeng.

Ia menyadari banyak taman kota di Kabupaten Blora yang butuh perhatian dari segi perawatan dan rehab. Perawatan akan dilakukan secara bertahap, begitu pula dengan Taman Seribu Lampu yang berada di Kecamatan Cepu.

Bupati Blora H.Djoko Nugroho dalam acara serah terima jabatan, Selasa (23/2) kemarin juga menyampaikan penataan ruang publik termasuk taman kota akan dilakukan. “Taman Seribu Lampu di Cepu akan ditata ulang, rencana ini juga sudah masuk dalam agenda Penjabat (Pj) Bupati Ihwan Sudrajat dan sinkron dengan pemikiran saya. Dengan harapan tidak ada lagi kesemrawutan di pusat Kecamatan Cepu,” kata Djoko Nugroho, kemarin. (tio-infoblora)

Tak Ingin Jatuh Korban Lagi, Pemkab Akan Bangun Pengaman di Embung Karangjati

Wakil Bupati Blora H.Arief Rohman M.Si mewakili Bupati H.Djoko Nugroho meninjau kondisi Embung Rawa di Kelurahan Karangjati, Selasa sore (23/2). (foto: tio-infoblora)
BLORA. Kejadian tenggelamnya M Nurul Huda (16) siswa SMK Muhammadiyah 1 Blora di Embung Rawa Kelurahan Karangjati pada Minggu sore (21/2) lalu yang diberitakan oleh info Blora ternyata membuat Pemkab Blora prihatin dan berkeinginan membuat pengaman di kawasan embung agar tidak jatuh korban lagi di kemudian hari.

Untuk mewujudkan niatan tersebut, sehari pasca penemuan jasad korban, Selasa (23/2) kemarin Wakil Bupati Blora H.Arief Rohman M.Si mewakili Bupati Blora H.Djoko Nugroho meninjau langsung kondisi embung yang menjadi lokasi tenggelamnya M.Nurul Huda anak sulung Suyadi (47) warga Kelurahan Tegalgunung.

“Saya dan Pak Bupati turut prihatin dengan kejadian ini. Setelah membaca berita di media, kami memutuskan untuk melihat langsung kondisi embung dan akan mengupayakan agar dibangun pengaman sehingga tidak akan ada lagi jatuh korban,” ucap H.Arief Rohman M.Si, Selasa sore (23/2) kemarin.

Bersama perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air, Wakil Bupati H.Arief Rohman M.Si meminta agar embung bisa dibangunkan pagar pembatas dan pembuatan plengsengan agar tanggul lebih kuat.

“Agar lebih aman, coba nanti pihak DPU agar mengajukan pembangunan pagar pembatas, penguatan tanggul dengan plengsengan dan pemberian papan peringatan berupa larangan berenang. Kalau perlu harus ada petugas jaga embung agar segala aktifitas masyarakat di kawasan ini bisa terkontrol,” jelas Arief Rohman.

Menanggapi permintaan Wakil Bupati, Kabid Pengelolaan Sumber Daya Air DPU Blora, Setiya Utama menjelaskan bahwa pihaknya telah mengajukan proyek perawatan embung berupa pembangunan plengsengan, pintu air dan pengadaan pagar.

“Kita sudah membuat rencana pembangunan plengsengan, pintu air dan pagar pembatas dengan nilai proyek sampai Rp 3 miliar. Nanti akan diusulkan melalui APBD Perubahan 2016, atau Banprov Jateng. Semoga berhasil,” ujar Setiya Utama.

Sementara itu Kepala Kelurahan Karangjati, M.Khumaidi S.Sos menyampaikan keinginannya agar embung tersebut bisa dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa saung-saung untuk wisata kuliner.

“Seperti halnya Tempuran, nanti pihak kelurahan ingin membangun lokasi untuk kuliner sehingga embung bisa menjadi salah satu alternatif wisata warga Blora. Akan dikelola oleh masyarakat sendiri sehingga bisa meningkatkan ekonomi sekitar,” bebernya.

Untuk diketahui, pemerintah pusat memang sedang gencar melakukan pembangunan waduk dan embung guna mendukung perwujudan kadaulatan pangan melalui penciptaan irigasi pertanian. Termasuk di Blora, beberapa embung telah dibangun dan ada yang sedang proses pembangunan. Pemkab meminta pembangunan embung tidak melupakan aspek keamanan agar tidak jatuh korban seperti yang menimpa M Nurul Huda. (tio-infoblora)

Djoko Nugroho : Sentuh Desa Pelosok Hutan, Jalan Perhutani Diambil Alih Pemkab

Bupati Blora 2016-2021, H.Djoko Nugroho bertekad untuk fokus perbaikan jalan pedesaan di pelosok hutan. Hal tersebut disampaikannya dalam acara sertijab, Selasa (23/2) di Pendopo Kabupaten. (foto: ag-infoblora)
BLORA. Di awal pemerintahannya sebagai Bupati Blora masa jabatan 2016-2021 bersama sang wakil H.Arief Rohman M.Si, H.Djoko Nugroho kembali mengemukakan tekadnya untuk terus memperbaiki akses jalan pedesaan, terutama desa-desa yang berada di pelosok hutan. Mengingat 43 persen wilayah Kabupaten Blora merupakan hutan jati dan ada ribuan manusia yang tinggal di pedalaman hutan.

Seperti yang disampaikan dalam sambutannya di acara serah terima jabatan (sertijab) bupati dan wakil bupati di pendopo kabupaten, Selasa (23/2). Bersama H.Arief Rohman M.Si ia akan memfokuskan pembangunan jalan pedesaan, khususnya desa-desa hutan yang melewati akses jalan milik Perhutani.

“Banyak desa-desa di pelosok hutan yang belum bisa menikmati jalan baik, seperti di Desa Bangkleyan, Kepoh, Bodeh, Tlogotuwung, Getas, Blungun, Jatisari, Temengeng dll. Kasihan mereka kesulitan akses ekonomi karena jalan menuju desanya adalah jalan perhutani. Maka kedepan akan Pemkab ambil alih agar bisa diperbaiki, saya sudah sampaikan ke Kepala Devisi Regional Perhutani,” kata Djoko Nugroho.

Menurutnya jika akses jalan hutan menuju desa-desa tersebut bisa dibangun oleh Pemkab dengan baik, maka akan memberikan motivasi dan spirit hidup yang tinggi kepada warga dalam peningkatan ekonomi desa. “Masalah ini akan saya sampaikan sebagai prolog dalam acara musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tingkat kabupaten,” lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Bupati H.Arief Rohman M.Si secara terpisah mengatakan bahwa komunikasi dan kerjasama dengan Perhutani akan lebih diintensifkan guna memperlancar tujuan pengelolaan jalan penghubung desa yang berada di pelosok hutan.

“Tidak hanya jalan saja, pengelolaan potensi objek wisata yang berada di wilayah kerja Perhutani juga akan diperhatikan oleh Pemkab. Nanti Pemkab akan melakukan kerjasama dengan Perhutani bagaimana baiknya agar pengelolaan objek wisata di dalam hutan milik Perhutani bisa lebih bagus dan menguntungkan bagi kedua belah pihak,” jelas H.Arief Rohman M.Si.

Seperti diketahui bersama, di Kabupaten Blora banyak potensi objek wisata yang berada di wilayah hutan Perhutani seperti Goa Terawang, Kedungbiru, Gubug Payung, Loko Tour, Jati Denok, Tapaan Janjang, Bukit Pencu dll. Selama ini pengelolaanya kurang maksimal karena dikelola sendiri oleh Perhutani, tidak melibatkan dinas terkait milik Pemkab Blora. (rs-infoblora)

Pembangunan Jembatan Kradenan-Ngraho Perlu Dukungan Pemprov Jateng-Jatim

Wakil Bupati Blora, H.Arief Rohman, M.Si mengatakan bahwa pembangunan
jembatan Kradenan-Ngraho butuh dukungan dari Pemprov Jateng-Jatim.
(foto: teg-infoblora)
BLORA. Rencana pembangunan jembatan Bengawan Solo di perbatasan Kabupaten Blora (Jateng) - Kabupaten Bojonegoro (Jatim) tepatnya penghubung Kecamatan Kradenan menuju Kecamatan Ngraho menurut Wakil Bupati Blora, H.Arief Rohman, M.Si perlu mendapatkan dukungan dari Pemerintah Provinsi baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Hal tersebut ia sampaikan kepada Info Blora, Jumat malam (19/2) melalui sambungan handphone ketika ditanya soal perkembangan usulan pembangunan jembatan yang rencananya akan dibangun dengan dana senilai Rp 80 miliar ini.

“Jembatan ini tidak hanya menghubungkan 2 kabupaten, namun juga 2 provinsi yakni Jateng dan Jatim. Sehingga sangat perlu dukungan dari kedua pemprov untuk pembangunannya. Kami dari Pemkab Blora mewakili Bupati Djoko Nugroho bersama Bupati Bojonegoro akan terus melakukan kerjasama, koordinasi dan sinkronisasi dengan Pemprov Jateng serta Jatim agar bisa mendapatkan bantuan pembangunan jembatan,” ucapnya.

Menurutnya dana pembangunan yang direncanakan mencapai Rp 80 miliar tersebut akan terasa ringan jika diusung oleh 4 pemerintah daerah, yakni Blora, Bojonegoro, serta Jateng, Jatim.

“Syukur-syukur pemerintah pusat melalui Kementerian PU juga memberikan dukungan anggaran untuk pembangunan jembatan. Mengingat proposal juga sudah dikirim Blora dan Bojonegoro kesana,” lanjut Mas Arief, (sapaan akrab H.Arief Rohman, M.Si).

Sependapat dengan Mas Arief, Kang Yoto Bupati Bojonegoro juga menyatakan hal yang sama. Bahwa peran kedua pemprov baik Jateng maupun Jatim sangat dibutuhkan dalam proyek pembangunan jembatan ini.

“Jembatan dengan panjang hingga 100 meter ini perlu dukungan Pemprov Jateng dan Jatim. Kami bersama Pemkab Blora akan berkoordinasi dan melakukan komunikasi ke Pemprov masing-masing. Setidaknya nanti bisa dibantu dalam pembebasan lahannya, apalagi kalau ada kucuran dana untuk konstruksi jembatannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sumber Kecamatan Kradenan, Zaky Bachroni S.Psi saat diminta tanggapannya tentang pengajuan pembangunan jembatan penghubung Kradenan-Ngraho oleh Pemkab Blora menyatakan bahwa dirinya mendukung 100 persen terhadap usulan tersebut.

“Ini usulan bagus dan sudah sejak lama dinanti-nanti warga masyarakat Kecamatan Kradenan. Jika memang benar bisa dilaksanakan maka akan berdampak besar untuk pertumbuhan ekonomi di wilayah Blora Selatan. Apalagi Kecamatan Kradenan memiliki potensi objek vital nasional berupa gas PPGJ Blok Gundih dan potensi lumbung pangan yang bagus. Pasti akses Blora Selatan menuju jalur nasional Bojonegoro-Ngawi akan lebih terbuka lebar dan perekonomian warga meningkat,” kata Zaki. (ag-infoblora)

Bupati Bojonegoro Setuju dan Dukung Pembangunan Jembatan Kradenan-Ngraho

Bupati Bojonegoro Jatim, H.Suyoto saat berkunjung ke Blora beberapa hari lalu. Dirinya menyetujui usulan pembangunan jembatan penghubung Kradenan-Ngraho yang diajukan Pemkab Blora. (foto: rs-infoblora)
BLORA. Rencana pembangunan jembatan Bengawan Solo penghubung Kecamatan Kradenan Blora (Jateng) menuju Kecamatan Ngraho Bojonegoro (Jatim) yang diajukan oleh Pemkab Blora kepada Pemkab Bojonegoro pada awal Februari lalu ternyata disambut positif oleh Bupati Bojonegoro, H.Suyoto.

Bupati yang akrab dipanggil Kang Yoto ini saat dihubungi tim Info Blora menyatakan bahwa dirinya menerima usulan proposal tersebut langsung dari Wakil Bupati Blora H.Arief Rohman, M.Si yang datang menemuinya ke Bojonegoro.

“Saya setuju dan mendukung usulan pembangunan jembatan di Kradenan-Ngraho, dimana  jembatan ini akan menyatukan kembali 2 komunitas sedulur sikep yang terpisah oleh Bengawan Solo. Tentunya juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dengan semakin lancarnya akses kedua wilayah,” kata Kang Yoto, Bupati Bojonegoro.

Tidak mau kalah dengan Blora, ia mengatakan bahwa setelah diberikan proposal pembangunan jembatan dari Pemkab Blora oleh Wakil Bupati H.Arief Rohman, M.Si, dirinya langsung menyetujui dan menandatangani proposal tersebut.

“Sehari setelah Mas Arief (sapaan akrab Arief Rohman) menghadap ke Bojonegoro, saya langsung menandatangani proposalnya dan langsung dikirim ke Kementerian Pekerjaan Umum,” ujar Kang Yoto, melanjutkan.

Bahkan menurutnya Pemkab Bojonegoro siap membantu pembebasan lahan dan menganggarkan dana untuk membangun jembatan penghubung Blora Selatan dengan Bojonegoro Barat Daya ini. “Perlu kerjasama antara Pemkab Blora dan Bojonegoro, dan juga Pemprov Jateng dan Jatim. Mengingat ini juga akses penghubung 2 provinsi,” lanjut Kang Yoto.

Sementara itu, Wakil Bupati Blora H.Arief Rohman, M.Si saat dikonfirmasi Jumat malam (19/2) membenarkan bahwa Bupati Bojonegoro H.Suyoto telah menyetujui usulan pembangunan jembatan Kradenan-Ngraho.

(baca juga: Pembangunan Jembatan Kradenan-Ngraho Perlu Dukungan Pemprov Jateng-Jatim)


“Blora dan Bojonegoro sudah sepakat dan sama-sama mengirimkan proposal pembangunan jembatan ke pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Semoga mendapat respon positif dari pusat, kami semua siap mengawal agar pembangunan bisa benar-benar dilaksanakan,” jelas H.Arief Rohman, M.Si. (ag-infoblora)

Kirim Proposal ke Menteri PU, Blora Ajukan Pembangunan Jembatan Kradenan-Ngraho

Ketiadaan jembatan memaksa warga Kradenan dan Ngraho memanfaatkan perahu sederhana sebagai akses utama penghubung kedua wilayah. Pemkab Blora pun merencanakan pembangunan jembatan di wilayah ini. (foto: tio-infoblora)
BLORA. Wacana pembangunan Jembatan Bengawan Solo di wilayah Blora Selatan penghubung Kecamatan Kradenan, Blora (Jateng) menuju Kecamatan Ngraho, Bojonegoro (Jatim) yang sudah lama didengungkan, ternyata kini tidak hanya isapan jempol. Langkah awal perencanaan pembangunan mulai dilakukan Pemkab Blora.

Belum lama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora serius menyusun proposal perencanaan pembangunan jembatan yang nilainya mencapai hingga Rp 80 miliar untuk diajukan ke Pemerintah Pusat.

Seperti yang dinyatakan Wakil Bupati Blora H.Arief Rohman, M.Si ketika dihubungi tim Info Blora pada Jumat malam (19/2) kemarin melalui telepon selular menjelaskan bahwa Pemkab Blora sudah menyusun dan mengajukan proposal pembangunan jembatan Bengawan Solo penghubung Kradenan-Ngraho ke Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) di Jakarta.

“Akhir Januari lalu Pemkab bersama Dinas Perkerjaan Umum (DPU) Blora telah selesai menyusun proposal pembangunan jembatan yang nilainya mencapai Rp 80 miliar dan dikirim langsung ke Kemen PU Jakarta. Proposal diurus oleh Kasi Pembangunan Jalan dan Jembatan DPU Blora, Nitzamudin Al Huda dan saya kawal ke Jakarta. Semoga pemerintah pusat melalui Kemen PU bisa mendukung pembangunan jembatan ini,” ucap H.Arief Rohman, M.Si, Jumat (19/2).

Namun, mengingat jembatan ini menjadi penghubung 2 kabupaten yakni Blora dan Bojonegoro yang berada do 2 provinsi berbeda, Jateng-Jatim, pihaknya juga perlu melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Kabupaten Bojonegoro, Jatim.

“Setelah mengirim proposal ke Jakarta, saya dan DPU Blora juga berangkat menemui Bupati Bojonegoro Jatim, Suyoto pada awal Februari lalu untuk meminta dukungan serta bantuannya dalam mewujudkan pembangunan jembatan ini. Proposal perencanaan pembangunan dari Blora saya serahkan ke Bupati Bojonegoro agar dipelajari dan dibantu, mengingat jembatan ini nantinya juga digunakan warga Bojonegoro menuju Blora,” lanjut H.Arief Rohman, M.Si.

Sesuai perencanaan, menurutnya jembatan akan dibangun di Desa Medalem Kecamatan Kradenan (Blora, Jateng) menuju Desa Luwihaji Kecamatan Ngraho (Bojonegoro, Jatim). “Kita akan terus kawal dan dorong bersama agar rencana pembangunan ini bisa terlaksana,” pungkasnya.

(baca juga: Bupati Bojonegoro Setuju dan Dukung Pembangunan Jembatan Kradenan-Ngraho)

Seperti diberitakan Info Blora sebelumnya, selama ini sudah puluhan tahun warga di kedua wilayah tersebut hanya mengandalkan penyebrangan menggunakan perahu sederhana. Ratusan orang setiap hari menggunakan sepeda dan motor naik perahu untuk melakukan aktifitas sehari-hari, mulai anak sekolah hingga para pedagang dan pegawai kantoran. (ag-infoblora) 

Warga Blora Selatan Nekad Sebrangi Bengawan Solo di Puncak Musim Hujan

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya perahu inilah akses utama penyebrangan Sungai Bengawan Solo penghubung wilayah Blora Selatan ke Bojonegoro dan Ngawi (Jawa Timur). (foto: tio-infoblora)
BLORA. Derasnya arus air Sungai Bengawan Solo saat puncak musim hujan mulai akhir Januari lalu hingga pertengahan bulan Februari ini ternyata tidak menimbulkan rasa takut bagi sebagian besar warga Blora Selatan yang tinggal di Kecamatan Kradenan, Randublatung dan Kedungtuban untuk tetap menyebrang menggunakan perahu sederhana dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

Tidak adanya jembatan penyebrangan sungai terpanjang se Pulau Jawa ini di wilayah Blora Selatan, memang memaksa warga setempat sejak puluhan tahun lalu nekad bergantung pada perahu penyebrangan yang dikelola desa setempat, meski terkadang rasa was-was menghampiri ketika arus deras datang.

“Jembatan Bengawan Solo hanya ada di Kecamatan Cepu yang jaraknya lebih dari 30 km dari sini. Sehingga harus berputar cukup jauh dan membuang waktu lama untuk menuju wilayah Ngraho Bojonegoro dan Ngawi (Jatim) atau sebaliknya. Sedangkan jika menyebrang menggunakan perahu dari Desa Medalem Kecamatan Kradenan Blora menuju Desa Desa Luwihaji Kecamatan Ngraho Bojonegoro tidak sampai 10 menit sudah sampai,” kata Sri Narti (35) warga Kradenan ketika menyebrang ke Ngraho Bojonegoro untuk menjual berasnya, Jumat (19/2).

Penyebrangan sungai Bengawan Solo dengan perahu jadi akses utama
penghubung Blora Selatan ke Bojonegoro dan Ngawi. Warga setempat berharap
pemerintah membangunkan jembatan untuk memperlancar jalur ekonomi.
(foto: tio-infoblora)
Begitu juga dengan Guruh (24) warga Desa Mendenrejo Kecamatan Kradenan yang sering menyebrang sungai untuk menuju wilayah Bojonegoro dan Ngawi. “Mau bagaimana lagi, inilah nasib warga perbatasan yang jauh dari pembangunan. Sudah lama masyarakat disini merindukan adanya jembatan. Namun sejauh ini masih wacana. Pengennya segera dibangun jembatan mas,” ujar Guruh.

Meskipun permukaan air sungai belakangan ini naik dan berarus deras, tidak membuat perahu penyebrangan berhenti beroperasi. Tanpa adanya pengaman berupa pelampung, mereka tetap beroperasi menyebrangkan ratusan warga setiap harinya untuk beraktifitas memenuhi kebutuhan ekonomi di kedua wilayah beda provinsi ini.

“Awalnya memang takut, tetapi karena sudah terbiasa ya terpaksa dengan sendirinya rasa takut itu hilang,” lanjutnya.

Perahu penyebrangan sendiri hanya bisa menyebrangkan orang, sepeda, dan motor roda dua berkapasitas maksimal 15 motor. Sedangkan orangnya bisa mencapai 30 orang sekali jalan. Setiap orang dikenakan biaya ongkos penyebrangan sebesar Rp 2000, sedangkan jika membawa motor dikenakan biaya Rp 5000.

Adapun lebar sungai Bengawan Solo ketika permukaannya naik bisa mencapai 100 meter dengan kedalaman lebih dari 30 meter. Sangat membahayakan jika penyebrangan perahu sederhana tidak dilengkapi dengan perlengkapan alat pelindung diri berupa pelampung. “Sudah saatnya pemerintah membangunkan sebuah jembatan di Blora Selatan agar akses ekonomi di kedua wilayah bisa berjalan lancar,” pungkasnya. (rs-infoblora)

Usai Melantik, Ganjar Minta Djoko-Arief Fokus Perbaikan Infrastruktur di Kab.Blora

Gubernur Ganjar Pranowo memberikan ucapan selamat kepada Bupati Blora Djoko Nugroho didampingi Wakil Bupati Arief Rohman. Ia meminta Bupati dan Wakil Bupati Blora fokus membenahi infrastruktur selama 5 tahun kedepan. (foto: teg-infoblora)
BLORA. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo setelah melantik Bupati Blora H.Djoko Nugroho dan Wakil Bupati Blora H.Arief Rohman, M.Si pada Rabu (17/2) lalu ternyata memberikan tugas khusus kepada duet pemimpin Kabupaten Blora masa bakti 2016-2021 ini untuk fokus melakukan perbaikan infrastruktur.

Ketika dihubungi tim Info Blora melalui salah satu akun media sosial pribadinya, Jumat (19/2) dan ditanyai tentang harapannya terhadap kepemimpinan Djoko-Arief di Kabupaten Blora, Ganjar langsung menjawab pembenahan infrastruktur.

“Bupati Blora, saya minta untuk fokus pembenahan infrastruktur baik jalan maupun jembatan. Masih banyak laporan dari rakyat Blora yang masuk ke akun twitter saya tentang kerusakan jalan, baik jalan kabupaten maupun jalan di pedesaan. Ini harus jadi fokus utama dan PR buat Pak Kokok dan Mas Arief,” kata Ganjar Pranowo.

Menurutnya, jalan merupakan akses utama pendukung pembangunan ekonomi daerah. Semua aktifitas masyarakat dilakukan melalui jalan. Jika jalan rusak maka pertumbuhan ekonomi dan kemajuan suatu daerah pasti akan terhambat. Bupati harus sadar tentang hal ini, dan dirinya akan terus mendorong agar perbaikan infrastruktur terus dilakukan.

Pemkab Blora sendiri sejak beberapa tahun ini memang terus melakukan perbaikan jalan secara berkelanjutan. Tahun ini di awal 2016, sejumlah proyek perbaikan jalan yang ada di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Blora juga sudah mulai dikerjakan.

Sedangkan untuk jalan provinsi di wilayah Kabupaten Blora, Pemprov Jateng melalui Dinas Bina Marga telah merencanakan pembangunan jalan dengan rigid beton di sejumlah ruas yang ada di Blora tahun 2016 ini. Bina Marga Jateng menarget pada 2018 semua jalan provinsi di Kabupaten Blora bisa dinikmati dengan baik, perbaikan dilakukan bertahap.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu saat Gubernur Ganjar Pranowo berkunjung ke Blora selalu menyempatkan diri meninjau keadaan jalan di kabupaten paling ujung timur Jawa Tengah ini. Bahkan ia pernah ngamuk saat mengetahui jalan provinsi ruas Cepu-Randublatung di depan Perhutani KPH Randublatung rusak dan berdebu. Ia memerintahkan Bina Marga Jateng untuk segera memperbaikinya. (rs-infoblora)

Pembetonan Jalan Provinsi Ruas Cepu-Randublatung-Singget Berlanjut Tahun 2016

Proyek pembetonan jalan provinsi di ruas Cepu-Randublatung-Singget tahun lalu. Tahun 2016 ini akan dilanjutkan di beberapa titik. (foto: teg-infoblora)
BLORA. Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah melalui Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Wilayah Purwodadi-Blora, Ali Huda menyatakan bahwa tahun 2016 ini sejumlah proyek pembetonan jalan provinsi di wilayah Kabupaten Blora akan dilanjutkan.

“Tahun 2016 ini akan ada 3 jalan provinsi di Kabupaten Blora yang mendapatkan proyek betonisasi atau rigid beton. Yang paling panjang adalah di ruas Cepu-Randublatung hingga Singget di Kecamatan Jati atau Doplang. Selain itu juga ada di ruas Todanan-Japah-Ngawen dan Kunduran-Blora,” kata Ali Huda, Kamis (18/2).

Menurutnya untuk ruas jalan provinsi mulai dari Cepu-Randublatung hingga Singget akan melanjutkan proyek pembetonan yang dilakukan tahun 2015 lalu. “Tahun ini pembetonan menyambung dengan proyek yang dikerjakan tahun lalu. Ada beberapa titik yang akan dibeton di ruas ini, seperti di Desa Nglandeyan Kecamatan Kedungtuban, Desa Plosorejo Kecamatan Randublatung, serta Desa Randulawang, Doplang, Gabusan hingga Singget di Kecamatan Jati,” jelasnya.

Ia menyatakan penandatangan kontrak pelaksana proyek telah dilakukan 17 Februari kemarin. Pihaknya berharap para pelaksana proyek bisa segera melaksanakan perbaikan konstruksi jalan sesuai perencanaan.

Selama pelaksanaan proyek nanti, warga masyarakat sekitar diminta untuk hati-hati dikarenakan petugas akan memberlakukan sistem buka tutup arus lalu-lintas di sepanjang jalan yang dikenakan proyek rigid beton.

Sementara itu, Agus (30) warga Kedungtuban menyambut positif upaya Bina Marga Jateng untuk melakukan sejumlah proyek pembetonan jalan di ruas Cepu-Randublatung-Singget.

“Selama ini kebanyakan perbaikan hanya berupa tambal sulam dan jalan bergelombang membahayakan jika musim hujan tiba. Jika memang pembetonan akan dilanjutkan tahun 2016 ini, kami akan mendukungnya dan membantu melakukan pengawasan di lapangan,” ujarnya. (rs-infoblora)

Bupati Bojonegoro Dukung Pengaktifan Bandara Ngloram Blora, Dengan Syarat

Bupati Bojonegoro, Suyoto saat meninjau Jemnatan Kali Lusi Bangkle Blora, Minggu (14/2). Ia mendukung jika Blora juga mengajukan untuk mengaktifkan kembali Ngloram. (foto: tq-infoblora)
BLORA. Disela kunjungannya ke Kabupaten Blora pada hari Minggu (14/2) lalu, Bupati Bojonegoro (Jatim) Suyoto saat ditanya tentang tanggapannya mengenai rencana pengaktifan kembali lapangan terbang (lapter) Ngloram di Kecamatan Cepu menjadi sebuah bandara, ternyata dirinya juga mendukung. Namun menurutnya dukungan itu akan Pemkab Bojonegoro lakukan dengan syarat.

“Pada prinsipnya Bojonegoro dan Blora yang berada di perbatasan Jatim-Jateng ini sangat memerlukan bandara untuk menunjang perekonomian, terlebih dengan adanya objek vital nasional berupa migas Blok Cepu. Jika Blora dan Jawa Tengah ingin mengaktifkan lagi Ngloram, saya tentu akan mendukungnya, syaratnya harus sesegera mungkin dan harus dipastikan kapan bisa beroperasi kembali,” ujar Suyoto, ketika berkunjung ke Blora usai mampir ke rumah Pramoedya.

Menurutnya, mana yang lebih cepat bisa membangun sebuah bandara maka ia akan mendukungnya. “Semuanya butuh bandara, jika Bojonegoro menggantungkan pada Ngloram, tetapi realisasinya tak kunjung dilakukan, ya percuma. Kita pengennya secepatnya. Keduanya sama-sama mengajukan pembangunan bandara baik Bojonegoro maupun Blora, mana yang lebih dahulu bisa, itu yang kita dukung. Semoga Blora dan Jawa Tengah juga terus berpacu,” jelasnya.

“Saat ini pembangunan bandara di Bojonegoro sejatinya sudah masuk dalam rencana tata ruang di Pemprov Jatim. Sehingga upaya untuk mewujudkan itu memang terus kami lakukan. Namun jika Ngloram prospeknya lebih bagus dan bisa lebih cepat direalisasikan, maka Bojonegoro akan menghentikan usaha pembangunan bandara,” lanjut Kang Yoto, sapaan akrab Suyoto.

Menurutnya saat ini panjang landasan di Ngloram baru ada 900 meter. Perlu diperpanjang hingga 2000 meter atau 2500 meter agar pesawat berbadan besar bisa mendarat di bandara tersebut nantinya.

Sekedar diketahui, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat berkunjung ke Blora belum lama ini juga pernah menyatakan bahwa pengaktifan kembali Ngloram menjadi sebuah bandara merupakan salah satu program kerja Pemprov Jateng. Pihaknya bersama-sama dengan Pemkab Blora terus berusaha berkomunikasi dengan Kementerian ESDM selaku pemilik lahan di Ngloram agar bisa diaktifkan kembali menjadi sebuah bandara. (ag-infoblora)

Jalan Nasional Blora-Cepu di Sekitar Jembatan Timbang Sambong Rusak Parah

Kerusakan jalan nasional ruas Blora-Cepu di timur Jembatan Timbang Sambong, dekat SMP Negeri 1 Sambong yang memprihatinkan. (foto: jo-infoblora)
BLORA. Jalan Blora-Cepu sepanjang 34 kilometer yang sebelumnya berstatus jalan provinsi, mulai tahun 2016 ini berubah menjadi jalan nasional dibawah pengelolaan langsung Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum. Namun berubahnya status jalan tersebut nampaknya belum diimbangi dengan perbaikan konstruksi jalan sebagaimana yang diharapkan masyarakat Blora.

Seperti yang dikeluhkan warga ketika melintasi Jl.Blora-Cepu km 25 sampai km 28 masuk wilayah Kecamatan Sambong atau sekitar Jembatan Timbang Sambong hingga SMP Negeri 1 Sambon banyak dijumpai titik-titik kerusakan jalan berupa lubang, kubangan, hingga jalan berlumpur terutama saat usai hujan turun.

Arsanto (24) warga Blora yang bekerja di Surabaya mengaku hampir seminggu sekali melewati jalur utama Blora-Cepu ini. Ia mengeluhkan buruknya konstruksi jalan di setelah Jembatan Brosot hingga mendekati SMP Negeri 1 Sambong.

“Kabarnya tahun ini sudah menjadi jalan nasional, tetapi kenapa belum diperbaiki juga. Terlebih saat musim hujan seperti ini banyak muncul kubangan air yang menutupi lubang di tengah jalan,” keluhnya.

Ia juga menyayangkan sedikitnya lampu penerang jalan saat malam hari yang membuat suasana jalan yang mayoritas di tengah hutan ini menjadi gelap. “Jalannya sudah rusak banyak lubang tertutup air, diperparah penerangan jalan yang minim. Banyak pengendara jalan jatuh terjebak lubang. Ini membahayakan,” tegasnya.

Dirinya meminta Pemkab Blora melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) bisa melaporkan kerusakan jalan nasional ini kepada Bina Marga Kementerian PU. Tidak lain agar perbaikannya bisa segera dilakukan.

“Sama-sama jalan nasionalnya kok beda konstruksinya. Padangan-Bojonegoro itu bisa bagus dan halus, kenapa Blora-Cepu di sebelah barat Padangan tidak bisa bagus?,” tanyanya.

Hal yang sama diungkapkan Rizky (26) warga Cepu yang sering mengendarai sepeda motor menuju Blora. Ia paling sebal jika usai hujan banyak air yang mengalir di tengah jalan. Banyak drainase yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga air justru mengalir di tengah jalan.

“Harusnya jalan itu bagian tengahnya tinggi dan tepinya semakin rendah sehingga air bisa mengalir ke drainase yang ada di pinggir jalan. Lha ini jalannya justru bergelombang dan air hujan mengalir di tengah jalan, persis sungai. Perlu banyak perbaikan,” harapnya.

Apalagi menurutnya saat ini di tepi Jl.Blora-Cepu usai dibangun saluran air bersih dari proyek SPAM yang pengurukan tanahnya kurang padat sehingga tanah bekas galian menimbulkan lumpur. Sehingga jalan menjadi licin, perlu ekstra hati-hati melewati jalan ini. (jo-infoblora)