BeritaSeo: Bencana Alam

Ratusan rumah di Sukabumi rusak parah akibat pergeseran tanah



Hingga Jumat pagi ratusan rumah di desa cimenteng dan desa narak jaya kecamatan curuk kembar kabupaten Sukabumi masih rusak berat akibat pergeseran tanah sejak Minggu pekan lalu tiba-tiba tanah terbelah dan membuat rumah-rumah warga ikut terbelah dan hancur khawatir bencana pergeseran tanah semakin lebar warga pun mengungsi ke kerabat yang jauh dari 2 desa tersebut.

"mulai Minggu sore itu

Banjir dan longsor rusak jalan dan jembatan penghubung di trenggalek



Selasa siang jalan penghubung antara desa bendoroto dan desa bangun di kecamatan munjungan Trenggalek sudah bisa dilalui warga. Sebelum nya petugas pemadam kebakaran, Satpol PP dan warga bekerja sama membersihkan jalan yang terputus diterjang oleh banjir disertai longsor

Perbaikan jalan secara darurat dilakukan agar panen warga tidak rusak dan dapat segera dikirim keluar daerah

"Kalau tidak

Gempa 5,1 SR Guncang Malteng, Bupati: Tidak Ada Korban

BERITA MALUKU. Bupati MalukuTengah, Abua Tuasikal memastikan tidak ada korban akibat gempa tektonik berkekuatan 5,1 Skala Richter (SR) yang mengguncang kabupaten tersebut pada Rabu (30/3) malam, sekitar pukul 22.38 WIT.

"Saya sejak guncangan gempa melanda berkoordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) teknis sambil mengarahkan memantau dampak gempa. Ternyata tidak ada korban apa pun," katanya, dihubungi dari Ambon, Kamis (31/3/2016).

Kabupaten Maluku Tengah memiliki 117 desa di 18 kecamatan sehingga membutuhkan waktu untuk memastikan dampak gempa tektonik yang tidak berpotensi gelombang pasang (tsunami) itu "Syukurlah tidak ada korban. Pusat gempa di 118 KM Barat Daya Kabupaten Maluku Tengah," kata bupati.

Data BMKG menyebutkan gempa berada di titik 4,08 Lintang Selatan, 129, 38 Bujur Timur. Gempa berpusat di kedalaman 10 KM di bawah laut.

Provinsi Maluku merupakan salah satu daerah rawan gempa dan tsunami karena terletak pada pertemuan tiga lempeng besar, yakni Pasifik, Indo Australia, dan Eurasia.

Lempeng Indo Australia yang masuk ke bawah lempeng Eurasia bertemu dengan Lempeng Pasifik, sehingga mengakibatkan patahan yang tidak beraturan.

Korban Longsor di Cepu Minta Pemerintah Segera Bangunkan Plengsengan

Rumah Moh Hasyim yang runtuh separuh karena tergerus longsor ke arah sungai pada Rabu (2/3) lalu. (foto: ant-infoblora)
BLORA. Keluarga Moch Hasyim, korban longsor di wilayah RT 02 RW 02 Desa Nglanjuk Kecamatan Cepu berharap agar pemerintah Kabupaten Blora melalui dinas terkait bisa segera melakukan pembangunan tanggul atau plengsengan sungai agar tanah miliknya tidak terus-terusan tergerus longsor pasca amblasnya rumah pada Rabu (2/3) lalu.

Ketika ditemui di rumahnya yang hanya tinggal separuh karena terkena longsor, Moch Hasyim yang sehari-hari bekerja sebagai seorang guru di SMA Negeri 1 Cepu ini mengaku sedih dan berharap pemerintah bisa segera melakukan penanganan agar rumahnya tidak termakan longsor terus.

“Potensi longsor yang diakibatkan anak sungai Bengawan Solo di sebelah rumah saya ini sebenarnya sudah lama. Kami sudah pernah lapor dan mengajukan usulan pembangunan tanggul, namun tidak pernah ada jawaban. Hingga saat ini rumah saya benar-benar jadi korbannya. Semoga dengan kondisi ini, pemerintah atau dinas terkait bisa segera melakukan pembangunan plengsengan atau tanggul penguat,” pintanya, Kamis (3/3) kemarin.

Ia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa pasca amblasnya separuh rumah yang masuk ke sungai. “Rumah dan tanah yang kami miliki hanya ini. Seandainya disuruh pindah, kami bingung harus pindah kemana,” ujarnya.

Sejak rumahnya amblas pada Rabu lalu, beberapa relawan mulai dari Satgana, Tagana, Satpol PP, MDMC hingga BPBD Kabupaten Blora sudah berdatangan untuk memberikan pertolongan dan pendataan kerugian yang diderita.

Sementara itu, Zulfikar anak Moch Hasyim mengatakan bahwa potensi longsor sudah pernah dilaporkan pada tahun 2014. “Sejak 2014 lalu sudah dilaporkan, tetapi jawabannya hanya janji-janji belaka. Yang saya ingat janjinya baru akan bisa diperbaiki ketika musim kemarau datang. Tetapi sampai rumah Bapak saya hancur seperti ini belum ada perbaikan,” jelasnya. (jo-infoblora)

Tergerus Longsor, 1 Rumah Warga Desa Nglanjuk Kec.Cepu Amblas Masuk Sungai

Satu rumah milik Moch Hasyim tergerus longsor dan amblas masuk ke sungai di wilayah RT 02 RW 02 Desa Nglanjuk Kecamatan Cepu, Rabu (2/3). (foto: ant-infoblora)
BLORA. Plengsengan sungai di tengah pemukiman padat penduduk wilayah RT 02 RW 02 Desa Nglanjuk Kecamatan Cepu longsor dan mengakibatkan 1 rumah warga amblas. Yakni rumah Moch Hasyim seorang guru SMA Negeri 1 Cepu yang menjadi korban pada Rabu siang (2/3).

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Satuan Tanggap Bencana (Satgana) Kecamatan Cepu, menyebutkan bahwa kejadian longsor yang mengakibatkan satu rumah milik Moch Hasyim amblas masuk sungai sedalam 3 meter terjadi sekitar pukul 12.00 WIB.

“Sebenarnya plengsengan sungai ini sudah 2 minggu lalu longsor, sudah dilaporkan ke Kecamatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora juga, namun tidak ada upaya penanganan darurat dari dinas terkait. Selama 2 minggu tersebut rumah Pak Hasyim menggantung karena tanah dibawahnya longsor. Karena tidak ada penyangganya, akhirnya Rabu siang (2/3) pukul 12. 00 WIB rumah ikut amblas masuk ke sungai yang ada di sebelah utara rumah,” jelas Komandan Satgana PMI Cepu, Anton Moedji.

Para relawan membantu evakuasi puing bangunan rumah yang jatuh
ke sungai pada Rabu siang. (foto: ant-infoblora)
Menurutnya, begitu mendapatkan kabar bahwa rumah Pak Hasyim amblas masuk ke sungai, pihaknya bersama anggota Satgana, Tagana, MDMC Cepu, Satpol PP, Relawan MTA, dan warga sekitar langsung turun ke lapangan untuk membantu korban mengevakuasi puing-puing bangunan yang masih bisa digunakan kembali.

“Teman-teman tadi langsung terjun membantu mengangkat puing bangunan yang masih bisa digunakan lagi seperti kayu, seng dan lainnya. Setidaknya separuh rumah milik Pak Hasyim amblas sehingga banyak perabotan rumah tangganya yang juga masuk ke sungai, untung saat kejadian arus sungai tidak besar,” kata Anton.

Ia menyatakan bahwa saat kejadian tidak ada hujan deras ataupun angin kencang. Memang keadaan rumah sudah menggantung sejak 2 minggu terakhir sehingga kemungkinan besar sudah tidak kuat menahan beban. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa saat longsor terjadi. Pak Hasyim masih ngajar di sekolah, sedangkan istrinya ada di rumah bagian selatan. Kepala Desa dan tim dari Polsek Cepu juga sudah meninjau lokasi,” lanjut Anton.

Moch Hasyim selaku pemilik rumah berharap kepada pemerintah melalui dinas terkait bisa segera membangunkan plengsengan penguat tanggul sungai agar kedepan longsor tidak melebar dan rumahnya tidak amblas lagi.

Rumah Moch Hasyim sejak 2 minggu lalu sebelum amblas sudah menggantung karena tanah dibawahnya telah longsor. (foto: rs-infoblora)
Sementara itu, tidak berselang lama tim pemantau dari BPBD Blora juga datang ke lokasi untuk melakukan pendataan dan pengecekan lokasi longsor di Desa Nglanjuk tersebut. Dari kejadian tersebut diperkirakan kerugian yang diderita Moch Hasyim mencapai puluhan juta rupiah.

“Untuk sementara, kini keluarga korban tinggal di rumah  satunya yang berada di sebelah selatan bangunan yang tergerus longsor. Semoga cepat dibangun plengsengannya sehingga longsor tidak meluas,” pungkas Anton sambil menggotong puing rumah dari dasar sungai ke atas. (rs-infoblora)

Rumah Warga Desa Kendayaan Kec.Ngawen Terancam Amblas Akibat Longsor

Salah satu rumah warga Desa Kendayaan yang terancam amblas karena longsor. Warga secara swaday membangun tanggul darurat dari karung berisi tanah yang diperkuat dengan potongan batang bambu. (foto: teg-infoblora)
BLORA. Hujan lebat beberapa hari terakhir di wilayah Desa Kendayaan Kecamatan Ngawen yang membuat jembatan ambrol dan memutus jalan desa seperti diberitakan info Blora sebelumnya, ternyata juga mengancam keberadaan beberapa rumah warga yang hampir amblas tergerus longsor oleh derasnya arus sungai.

“Selain jembatan ambrol dan jalan terputus, ada 3 bangunan rumah warga disini yang juga terancam amblas akibat tergerus longsor oleh derasnya arus sungai. Karena peristiwa ini, warga menjadi was-was dan takut jika hujan deras kembali datang dan sungai berarus deras lagi,” kata Siti (35) warga setempat, saat ditemui info Blora, Sabtu (27/2) kemarin.

Menurut penjelasannya, untuk mengantisipasi agar 3 rumah yang terancam amblas tergerus longsor tersebut tidak ambruk, sejumlah warga dibantu anggota TNI dari Koramil dan Polsek Ngawen beberapa hari lalu membantu membuat tanggul sementara untuk menahan tanah agar longsor tidak terjadi lagi.

Sementara itu Suwarno (45) salah satu warga yang terancam longsor mengaku terpaksa harus masih menempati rumahnya lantaran tak ada lahan lain untuk memindahkan harta bendanya tersebut.

“Sudah ada 1 warga yang memindahkan rumahnya karena takur kena longsor yang semakin besar, tetapi saya masih bertahan lantaran tak ada lahan lain untuk memindah rumah. Agar longsor tak semakin parah, dengan dibantu para tetangga buat tanggul dari karung berisi tanah yang dengan penahan batang bambu,” jelasnya.

Dari kejadian ini Suwarno berharap agar pemerintah kabupaten melalui dinas terkait bisa memberikan bantuan penanggulangan terhadap bencana yang dihadapi warga di Desa Kendayaan tersebut.

“Sebab selain was-was untuk menempati rumah yang terancam longsor, jembatan yang longsor juga membuat aktifitas warga terganggu. Kami harap pemerintah bisa cepat mengambil sikap untuk bisa membuatkan tanggul dan membenahi jembatan yang merupakan akses utama para warga untuk melakukan aktifitas sehari-hari,” harapnya. (teg-infoblora)

Jembatan Ambrol, Jalan Akses Warga Desa Kendayaan Kec.Ngawen Terputus

Jembatan ambrol, akses jalan Desa Kendayaan Kecamatan Ngawen terputus. Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan kembali. (foto: teg-infoblora)
BLORA. Hujan lebat yang turun beberapa hari belakangan ini di wilayah Kecamatan Ngawen membuat jembatan utama yang berada di Desa Kendayaan ambrol tergerus arus deras. Bahkan ambrolnya jembatan utama menyebabkan jalan desa setempat terputus sehingga ada ratusan KK terputus akses nya untuk menuju desa lainnya.

“Setidaknya ada sekitar 700 KK yang tinggal di Desa Kendayaan yang terputus akses jalannya sehingga kesulitan untuk beraktivitas keluar desa, karena jembatannya amblas seperti ini sejak Rabu (24/2) lalu,” kata Siti (35), Sabtu (27/2) kemarin kepada pewarta info Blora.

Ia mengatakan untuk beraktivitas keluar masuk desa, warga terpaksa memutar, melewati jalur alternatif. Warga harus menempuh jarak lebih jauh, sekitar 10 Km jika dibanding melewati jalur utama.

“Kena banjir bandang, jembatan ambrol sehingga aktifitas warga jadi sulit seperti kalau ke pasar, warga lewatnya memutar lewat desa lainnya,” lanjut Siti.

Menurutnya, pasca ambrolnya jembatan kini aktifitas warga terganggu karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menuju pusat Kecamatan. “Kalau jalan kaki masih bisa, harus hati-hati melewati jalan yang amblas. Namun kalau kendaraan bermotor harus memutar jauh lewat desa lain,” ujarnya.

Hingga Sabtu (27/2) kemarin menurutnya belum ada dinas terkait yang meninjau ke lapangan untuk melakukan pendataan dan langkah penanggulangan terhadap ambrolnya jembatan yang memutus jalan warga.

“Sempat ada gotong royong membersihkan longsoran dari Polsek dan Koramil, namun belum maksimal. Perlu segera dilakukan pembangunan jembatan darurat agar akses warga bisa kembali berjalan normal. Alhamdulillah jika bisa dibangun secepatnya,” harapnya. (teg-infoblora)

Tergerus Arus Sungai, Jalan Desa Biting Hampir Putus & 1 Rumah Terancam Roboh

Komandan Satgana menunjukkan retakan pondasi yang
ambles dan berpotensi merobohkan rumah milik Tampan (36).
(foto: am-infoblora)
BLORA. Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Sambong pada Jumat sore (26/2) ternyata membuat arus sungai Biting di Desa Biting setempat mengalir deras. Derasnya aliran sungai Biting bahkan membuat jalan lingkungan di wilayah RT 05 RW 02 setempat hampir putus karena tanggul di tepi jalan tergerus air.

Selain itu, ada 1 rumah warga terancam roboh lantaran pondasi bangunan mengalami retak dan ambles sedalam 10 cm, sehingga bangunan rumah di atasnya kelihatan menggantung. Rumah tersebut adalah milik Bapak Tampan (36) warga RT 05 RW 02 Desa Biting.

Komandan Satuan Tanggap Bencana (Satgana) Anton Moedji menyatakan bahwa kejadian terjadi pada pukul 17.00 WIB Jumat sore. “Akibat arus Sungai Biting yang deras, membuat jalan ambles hampir putus dan rumah Pak Tampan di tepi jalan tersebut ikut ambles pondasinya,” kata Anton, Jumat petang kepada info Blora.

Menurutnya, setelah mendapatkan kabar tersebut, dirinya dan anggota Satgana lainnya bersama Camat Sambong, Luluk Kusuma Agung Ariyadi S.STP langsung melakukan peninjauan lokasi kejadian di Desa Biting.

“Bersama Pak Camat kami melakukan pengecekan dan pendataan kondisi terkini pasca tergerus untuk dijadikan bahan laporan ke dinas terkait agar bisa segera dilakukan tahapan penanganan lebih lanjut,” lanjut Anton.

Jalan pemukiman di RT 05 RW 02 Desa Biting hampir putur karena sebagian tanah ambles tergerus arus sungai yang ada disampingnya, Jumat sore (26/2). (foto: am-infoblora)
Sementara itu, Camat Sambong Luluk Kusuma Agung Ariyadi S.STP meminta keluarga Tampan untuk tetap tegar dan menanggung akibat bencana alam ini secara bersama-sama. “Kami akan segera melaporkan keadaan kebencanaan ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang ada di Kabupaten, sehingga bantuan besok bisa segera datang,” ucapnya.

Dirinya khawatir jika tidak segera ditangani, jalan pemukiman di wilayah RT 05 RW 02 Desa Biting bisa benar-benar putus dan rumah Tampan potensi robohnya lebih besar karena pondasinya ambles belasan cm. (set-infoblora)

Jembatan Kali Wayang Ambles Pasca Banjir, Pembangunan Minta Dipercepat

Jembatan Kali Wayang penghubung pusat Desa Sumber menuju Dukuh Jompong yang ambles, hanya bis dilalui motor dengan hati-hati. (foto: and-infoblora)
BLORA. Jembatan Kali Wayang penghubung pusat Desa Sumber menuju Dukuh Jompong yang beberapa hari lalu tergenang banjir ternyata pada Jumat pagi (12/2) ambles. Amblesnya jembatan disebabkan karena pondasi di sisi timur jebrol, dimungkinkan karena tergerus air yang sangat deras saat terjadi banjir. Hal tersebut disampaikan Kepala Desa Sumber Kecamatan Kradenan, Zaky Bachroni S.Psi saat dihubungi tim Info Blora, Jumat siang (12/2).

“Jembatan ini memang sudah tua dan sudah saatnya diremajakan. Kabarnya tahun ini sudah mendapatkan jatah perbaikan dari DPU Blora. Namun justru keduluan banjir sehingga pondasi jembatan sisi timur tidak kuat dan ambrol. Warga kami takut jika benar-benar ambrol sebelum diperbaiki maka akses transportasi antar dukuh disini bisa putus,” ucap Zaky Bachroni.

Menurutnya sesaat setelah pondasi timur ambles, perangkat desa dibantu dengan beberapa warga berinisiatif mengurug jembatan dengan tanah yang dimasukkan ke dalam karung plastik. Tetapi ini sifatnya penanganan darurat. “Kami berharap agar segera ada penanganan permanen agar jembatan bisa dibangun lebih kokoh,” lanjut Zaky.

Ia mengatakan bahwa pihak desa juga sudah membuat surat laporan amblesnya jembatan akibat bencana banjir kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora.

“Surat sudah kami kirim ke BPB Blora dan semoga segera direspon. Sementara itu pihak desa sendiri Sabtu pagi besok akan melakukan kerja bakti di sekitar jembatan agar kerusakan yang terjadi tidak semakin parah,” ujar Zaky.

Dirinya berharap semoga segera ada tindakan darurat untuk penanganan jembatan atau mempercepat pembangunan jembatan Kali Wayang yang kabarnya sudah dianggarkan di APBD 2016.

“Jembatan ini merupakan akses utama warga dan anak-anak sekolah di MTs Hasyim Asyari. Kalau tidak segera diperbaiki, bisa dipastikan kegiatan belajar mengajar akan terganggu karena akses jembatan tidak bisa dilalui,” pungkasnya.

Sementara itu berdasarkan pengamatan di lapangan, memang badan jembatan yang terbuat dari kayu ini sudah berusia cukup tua. Pondasi di sisi timur bagian selatan tampak sudah diurug dengan karung plastik berisi tanah yang ditahan dengan batang bambu.


Sedangkan di sisi utara, pondasi ambles sehingga hanya separuh badan jalan yang bisa dilalui kendaraan jenis roda dua. Kendaraan roda empat sudah tidak diperbolehkan masuk. Para pengguna jalan yang melintas juga diminta hati-hati karena dimungkinkan jika hujan turun lagi dengan intensitas tinggi berpotensi ambles lebih parah. (tio-infoblora)

Atasi Longsor Bengawan Solo, Warga Meminta Pemerintah Bangun Plengsengan

Komandan Satgana PMI Kecamatan Cepu memantau kondisi tanggul Bengawan Solo yang longsor di Desa Ngloram. (foto: rs-infoblora)
BLORA. Warga Desa Ngloram Kecamatan Cepu yang terancam longsor tanggul Sungai Bengawan Solo tidak bisa berbuat banyak. Mereka berharap kepada pemerintah melalui dinas terkait agar bisa dibangunkan tanggul plengsengan permanen supaya longsor akibat gerusan arus sungai bisa diminimalisir.

Purwati warga RT 03 RW 02 Desa Ngloram yang rumahnya tidak jauh dari tepi Sungai Bengawan Solo saat dijumpai tim Info Blora berharap agar pemerintah bisa membangunkan plengsengan untuk memperkuat tanggul.

“Tanah disini setiap Bengawan banjir pasti longsor sehingga banyak yang amblas. Sungai pun semakin lebar dan jarak sungai ke pemukiman penduduk makin dekat. Kami minta pemerintah bisa membangunkan plengsengan seperti yang telah dibangun di Kelurahan Cepu dan Balun,” pinta Purwati, Kamis (11/2).

Begitu juga dengan Wiknarti yang rumahnya hanya berjarak 10 meter dari Bengawan Solo. Dirinya bersama anaknya setiap malam tidak bisa tidur nyenyak ketika hujan deras turun berjam-jam.

“Anak saya selalu ketakutan tidak bisa tidur bila hujan turun deras di malam hari. Takut jika sewaktu-waktu Bengawan Solo banjir dan mengakibatkan tanah rumah kami amblas. Saya minta ada bantuan pembangunan plengsengan di wilayah ini,” harap Wiknarti.

Sementara itu, Komandan Satuan Tanggap Bencana (Satgana) PMI Kecamatan Cepu, Anton Moedji menjelaskan bahwa sejak terjadi longsoran tanggul Bengawan Solo di Desa Ngloram, pihaknya terus melakukan pemantauan rutin di sepanjang tanggul sungai terpanjang di Jawa ini.

“Kami secara aktif rutin memantau debit air dan kondisi tanggul Bengawan Solo di Kecamatan Cepu. Jika terjadi longsoran seperti ini, kami akan mendata dan melaporkan ke dinas terkait agar bisa segera ditangani. Sedangkan kepada warga kami himbau untuk waspada dan jika terjadi situasi kebencanaan yang darurat diarahkan untuk mengungsi agar tidak jatuh korban. Tim kami selalu siaga,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Selasa (9/2) lalu derasnya debit air sungai Bengawan Solo telah mengakibatkan tanggul sepanjang 200 meter lebih amblas. Longsor pun semakin melebar di satu titik baru berjarak 100 meter di selatan titik yang lama. Warga setempat tidak tenang jika hujan masih turun dengan intensitas tinggi yang bisa berpotensi mendorong longsornya tanah tepi sungai. (tio-infoblora)

Arus Bengawan Solo Masih Deras, Warga Nekad Swadaya Tanggulangi Longsor

Warga RT 02 RW 02 Desa Ngloram Kecamatan Cepu nekad benahi tanggul yang longsor, meski Bengawan Solo masih berarus deras. (foto: tio-infoblora)
BLORA. Belum adanya bantuan penanganan darurat terhadap bencana longsornya tanggul Sungai Bengawan Solo di wilayah RT 02 RW 02 Desa Ngloram Kecamatan Cepu yang terjadi sejak hari Selasa (9/2) lalu, membuat warga setempat ketakutan.

Akhirnya mereka nekad melakukan gotong royong secara swadaya dengan cara menanam potongan bambu untuk penahan tanah meskipun arus sungai terpanjang di Jawa ini masih sangat deras.

Seperti yang dilakukan, Jupri, Jamin beserta beberapa warga setempat pada hari Kamis (11/2) kemarin tampak sibuk memotong batang pohon bambu untuk ditanam di bagian bawah longsoran tanggul dengan harapan tanah tidak mudah tergerus derasnya arus Bengawan Solo.

“Saya takut tanah saya semakin habis dimakan Bengawan Solo, kalau habis saya mau tinggal dimana? Sementara itu hingga saat ini belum ada bantuan penanganan longsor dari pemerintah. Sebisa saya, dibantu tetangga hanya memotong bambu ini untuk ditanam di lokasi longsoran agar tanah tidak mudah tergerus,” jelas Jupri.

Saat tim Info Blora berada di lokasi, memang warga sedang melakukan penanaman pohon penguat tanggul di beberapa titik yang longsor. Bagian atas tanggul yang amblas ditanami pohon pisang, pohon waru, dan beringin. Sedangkan bagian bawah tanggul yang longsor ditanami dengan potongan batang bambu agar tanah tak mudah amblas tergerus air Bengawan Solo.

Sedangkan keadaan arus Bengawan Solo masih tampak deras mengalir dengan airnya yang sangat keruh. Lokasi titik longsor yang berdekatan dengan objek wisata Kracaan saat musim kemarau tiba ini pun semakin luas. Setidaknya ada 200 meter lebih panjang tanggul yang amblas tergerus air.

Beberapa gerombol pohon bambu besar pun ikut amblas lepas, padahal bambu tersebut merupakan penguat tanggul Bengawan Solo. (tio-infoblora)

Longsoran Tanggul Bengawan Solo Melebar, Rumah Warga Terancam Amblas

Tanggul Bengawan Solo di Desa Ngloram Kecamatan Cepu longsor dan mengancam keberadaan rumah penduduk di sekitarnya. (tio-infoblora)
BLORA. Kekhawatiran warga Desa Ngloram Kecamatan Cepu yang tinggal di RT 02 RW 02 mengenai ancaman longsor tanggul Sungai Bengawan Solo semakin besar. Pasalnya, pasca tergerus arus air deras pada Selasa (9/2) lalu kini keadaan tanggul di desa tersebut semakin parah sehingga jaraknya bibir sungai sampai pemukiman warga hanya tinggal beberapa meter.

Seperti yang dialami Jupri (53), warga yang tinggal di tepi Sungai Bengawan Solo bersama kedua anaknya Agus (30) dan Susanto (28) ini merasa ketakutan jika sewaktu-waktu rumahnya ikut amblas terseret derasnya arus Bengawan Solo.

“Jaman saya kecil, tanah yang dahulunya ditempati bapak saya ini jaraknya dengan bengawan Solo masih jauh. Sekarang hanya tinggal beberapa meter dari rumah. Saat hujan deras turun, saya dan keluarga selalu was-was takut jika longsor semakin meluas hingga mencapai rumah,” kata Jupri, Kamis (11/2) kemarin.

Sedangkan Karmi (50) istri Jupri mengatakan bahwa penyebab longsornya tanggul di timur rumahnya itu karena maraknya penambangan pasir liar. “Disini banyak sedotan pasir yang nambang di dasar Bengawan mas, jadi sungainya semakin dalam. Otomatis tanggul jadi lebih mudah longsor karena material dibawahnya diambil,” ucap Karmi.

Begitu juga dengan Arifin, warga lainnya yang bekerja di KUA Kecamatan Cepu ini terpaksa membongkar dapur rumahnya karena jarak longsoran tanggul Bengawan Solo semakin mendekati belakang rumahnya. Ia khawatir rumahnya ikut longsor mengingat arus Bengawan Solo masih belum normal.

“Pak Arifin ini malah sudah membongkar rumahnya bagian belakang karena longsor terus menggerus tanahnya di pinggir Bengawan Solo. Agar tidak semakin parah, saya pun terpaksa menanami tepi tanggul yang longsor dengan potongan bambu seadanya. Semoga saja hujan di wilayah hulu tidak deras lagi sehingga longsor tidak semakin lebar,” jelas Jimin, tetangga Arifin yang kemarin sedang menanam potongan bambu penguat tanggul.

Warga yang tinggal di bantaran Bengawan Solo ini berharap ada bantuan tindakan darurat untuk penanganan longsor dari pemerintah agar tanah mereka tidak hilang termakan derasnya air sungai. “Semoga ada bantuan untuk mengatasi masalah ini. Kalau tanah habis, kami bingung entah mau tinggal dimana karena yang kami miliki hanya tanah ini,” pungkasnya. (tio-infoblora)

Jenguk Korban Banjir di Kradenan, Arief Rohman Disambati Perbaikan Infrastruktur

Wakil Bupati Terpilih, H.Arief Rohman M.Si saat meninjau Desa Sumber Kecamatan Kradenan pasca banjir. (foto: tio-infoblora)
BLORA.  Musibah banjir akibat luapan Kali Wulung di Kecamatan Kradenan pada hari Senin (8/2) lalu yang merendam ratusan rumah warga di Desa Sumber dan Desa Mojorembun nampaknya mengundang keprihatinan Bapak H.Arief Rohman, M.Si untuk berkunjung ke wilayah terdampak bencana.

Wakil Bupati Terpilih pasangan Bupati Terpilih H.Djoko Nugroho yang baru akan dilantik pada 17 Februari mendatang tersebut pun pada hari Rabu (10/2) setibanya dari Jakarta langsung menuju Desa Sumber dan Desa Mojorembun untuk meninjau kondisi terkini korban pasca banjir.

Di Desa Sumber, H.Arief Rohman, M.Si yang juga mantan anggota DPRD Jawa Tengah dari F-PKB ini langsung disambut oleh Kepala Desa setempat, Zaky Bachroni S.Psi. Dihadapan sang wakil bupati terpilih, Zaky Bachroni langsung memaparkan kondisi desanya pasca diterjang banjir.

Kondisi jembatan Kali Wayang di Desa Sumber yang diajukan perbaikan.
(foto: tio-infoblora)
“Banyak infrastruktur di Desa Sumber yang rusak sehingga perlu diperbaiki pasca banjir melanda. Kami meminta agar Pak Arief Rohman setelah dilantik mendampingi Pak Kokok (sapaan akrab Djoko Nugroho) akan dapat mengusahakan perbaikan drainase dan jembatan di desa kami agar banjir tidak datang lagi,” ucap Zaky.

Ia mengusulkan perbaikan jembatan Kali Wayang penghubung Dukuh Sumber menuju Dukuh Jompong. Kondisi jembatan yang terbuat dari kayu tampak sudah rapuh dan tidak kuat dilalui truk bertonase berat. Sehingga menurutnya perlu dibangun lagi. Begitu juga dengan drainase di Desa Sumber, perlu revitalisasi sehingga saat hujan deras melanda, aliran air bisa lancar dan tidak menyebabkan genangan banjir.

Menurutnya, saat banjir tiba beberapa hari lalu tersebut setidaknya ada 400 an rumah warga yang terendam dengan kedalaman 60 cm hingga 100 cm. Bantuan telah datang dari BPBD Blora dan pemeriksaan gratis dari Puskesmas Menden.

Merespon permintaan Kades Sumber, H.Arief Rohman, M.Si sengaja mengajak temannya, Pak Huda dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Blora bidang Bina Marga untuk menanggapi usulan Zaky Bachroni.

“Sebelumnya Pak Kades Sumber ini sudah menghubungi saya via telepon dan meminta perbaikan infrastruktur yang rusak pasca diterjang banjir, sehingga saya langsung membawa orang teknis dari DPU agar bisa diarahkan kemana jalan pengajuan proyeknya,” jelas H.Arief Rohman, M.Si.

H Arief Rohman M.Si kaos hitam (6 dari kanan) berfoto dengan sedulur sikep Dukuh Tambak Desa Sumber. (foto: tio-infoblora)
Sementara itu, Huda dari DPU Blora mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memberikan keputusan apakah pengajuan perbaikan infrastruktur ini bisa langsung dilakukan. “Sementara ini kami tampung untuk dicarikan jalan pengajuan proyeknya,” ujar Huda.

Pihaknya juga menyempatkan berkunjung ke pemukiman sedulur sikep (samin) di Dukuh Tambak yang masih dihuni orang-orang sikep sebanyak 47 KK. Bersilahturahmi ke rumah Mbah Kasbi sesepuh sedulur sikep setempat.

Disini Kades Sumber, Zaky Bachroni mengajukan usulan perbaikan jalan lingkungan untuk sedulur sikep mengingat lokasi ini merupakan salah satu cagar budaya setempat yang banyak menjadi rujukan penelitian tradisi  sikep dari berbagai perguruan tinggi.

Setelah meninjau Desa Sumber, sekitar pukul 17.00 WIB rombongan wakil bupati terpilih menuju Desa Mojorembun yang berjarak hanya 1 km. H.Arief Rohman langsung menuju Balaidesa Mojorembun yang kebetulan saat itu sedang ada kegiatan pengobatan massal gratis bagi para korban banjir.

Warga Desa Mojorembun mengikuti pengobatan massal gratis di balaidesa setempat saat dikunjungi H.Arief Rohman M.Si. (foto: tio-infoblora)
Rombongan disambut Pak Sekdes Mojorembun Jauhari dan perangkat lainnya. Mereka menyampaikan keadaan Desa Mojorembun kepada H.Arief Rohman M.Si. Diantaranya pasca banjir banyak warga bergotong royong membersihkan lumpur di dalam rumah dibantu remaja karang taruna.

“Kemarin kami gelar gotong royong pembersihan rumah. Siang tadi dilakukan pembagian sembako bantuan dari BPBD dan kini dilanjutkan pengobatan gratis,” kata Jauhari.

Sedangkan kepada H.Arief Rohman M.Si, Sekdes Mojorembun Jauhari meminta agar di desanya kelak bisa diusulkan pembangunan talud, drainase dan tanggul sungai agar banjir tidak datang lagi setiap tahun saat musim hujan tiba. Saat banjir tersebut, dua akses jalan dari Desa Sumber menuju Mojorembun terputus akibat terendam air hingga kedalaman 1 meter.

H.Arief Rohman, M.Si mendatangi korban banjir yang sedang antri pengobatan gratis di Balaidesa Mojorembun. (foto: gem-ib)
“Coba kebutuhan Desa Mojorembun didata semuanya, kemudian buat rencana pembangunan pasca banjir dan sampaikan ke DPU agar nanti bisa diajukan pengusulan proyeknya di APBD. Sehingga bisa segera ditindaklanjuti. Kami akan mengawal,” jelas Arief Rohman.

Ahmad Rifai, salah satu warga Desa Mojorembun yang juga anggota karang taruna setempat menyambut baik kunjungan wakil bupati terpilih ke desanya. “Terimakasih Pak Arief Rohman sudah mau mengunjungi desa saya yang menjadi langganan banjir ini. Semoga akan ada manfaat bagi desa kami setelah dikunjungi Bapak,” ucap Rifai.

Adapun Kepala Desa Mojorembun, Moch Syaifudin Zuhri saat itu tidak bisa ikut menemui rombongan H.Arief Rohman M.Si karena sedang sakit asam lambung dan dirawat di salah satu rumah sakit yang ada di Kecamatan Cepu.

H.Djoko Nugroho sendiri saat terjadi banjir masih menunaikan ibadah umroh bersama keluarganya di Tanah Suci Saudi Arabia sehingga belum bisa mengunjungi para korban banjir di Kecamatan Kradenan dan sekitarnya. (tio-infoblora)

Hujan Deras 3 Jam, Cepu Terendam Banjir Luapan Sungai Semalaman

Petugas BPBD Kabupaten Blora bersama relawan menyisir rumah penduduk di Balun Gang Swadaya yang terendam banjir, semalam. (foto: ag-infoblora)
BLORA. Hujan deras yang turun mengguyur Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, selama 3 jam lebih pada Selasa sore (9/2) kemarin ternyata mengakibatkan beberapa sungai di wilayah tersebut tidak mampu menampung banyaknya air sehingga meluap ke pemukiman warga dan menyebabkan banjir.

Setelah memperoleh laporan dari relawan yang ada di Cepu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora pun langsung terjun ke lapangan bersama tim lainnya untuk melakukan pendataan dan penanganan banjir.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Blora, Sri Rahayu yang ikut terjun langsung ke lapangan untuk memimpin penanggulangan banjir, mengatakan bahwa setidaknya ada 3 sungai yang menyebabkan banjir luapan menggenangi pemukiman warga wilayah perkotaan di Kecamatan Cepu. Yakni Sungai Putat, Sungai Ngareng dan Sungai Taman Siswa.

“Curah hujan yang sangat tinggi ternyata menyebabkan sungai penuh, akibatnya air meluap ke jalan dan pemukiman warga. Titik terparah ada di kawasan Tuk Buntung dan Balun Gang Swadaya,” kata Sri Rahayu, Selasa malam (9/2).

Ia mengimbau kepada seluruh warga masyarakat di Kecamatan Cepu untuk terus waspada terhadap tingginya curah hujan beberapa hari belakangan ini.

“Musim hujan ini sedang puncaknya, diprediksi hingga akhir Februari. Maka dari itu masyarakat diminta tetap waspada dan selalu berkoordinasi dengan pihak terkait baik BPBD ataupun Posko Siaga Bencana yang ada di Kecamatan Cepu,” lanjut Sri Rahayu.

Sementara itu, salah satu staf BPBD Blora pemantau wilayah Cepu, Agung Triyono mengungkapkan bahwa wilayah yang terendam banjir luapan meliputi Ngareng Stasiun Kota, Tuk Buntung, Balun Ledokan, dan Jl.RSU kawasan Taman Seribu Lampu yang merupakan pusat keramaian di kecamatan ini.

“Sejak pukul 18.00 WIB kami melakukan pendataan wilayah terdampak bersama relawan lain dari Tagana, Satgana, dan tim Posko Siaga Bencana Satpol PP Kecamatan Cepu. Ketinggian air rata-rata antara 50-80 centimeter,” ungkap Agung, semalam.

Kasi Trantib Satpol PP selaku Komandan Posko Siaga Bencana Kecamatan Cepu, Dahlan Rosidi juga mengerahkan pasukannya untuk turut membantu pendataan dan penanganan korban banjir.

“Selain mendata, kami juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian di Polsek Cepu untuk mengatur kesemrawutan dan kemacetan lalu-lintas yang disebabkan jalan tergenang,” ujar Dahlan Rosidi.

Menyikapi kondisi tersebut, sebagian besar warga Cepu hanya bisa pasrah, pasalnya hampir setiap tahun banjir luapan sungai selalu terjadi saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

“Banjir seperti ini sudah biasa terjadi setiap tahun saat puncak musim hujan, sehingga kami sudah tahu bagaimana harus bersikap. Kami hanya bisa pasrah dan berharap segera surut,” kata Yudi warga Balun Gang Swadaya yang rumahnya terendam banjir.

Hingga Rabu dini hari (10/2) ketinggian banjir luapan mulai berangsur-angsur surut dan kembali normal. Hari ini warga korban banjir sibuk membersihkan rumahnya dari sisa kotoran yang dibawa oleh luapan air sungai. (ag-infoblora)

Korban Banjir Antusias Ikuti Pengobatan Gratis di Balaidesa Mojorembun Kradenan

Rinto petugas Puskesmas Menden Kecamatan Kradenan memeriksa warga korban banjir di Balaidesa Mojorembun. (foto: fai-infoblora)
BLORA. Pasca terendam luapan Kali Wulung pada Senin (8/2) kemarin, Pemerintah Desa (Pemdes) Mojorembun di hari Selasa (9/2) langsung mengambil tindakan untuk penanganan kesehatan ratusan korban banjir yang ada di desanya. Bekerjasama dengan Puskesmas Menden Kecamatan Kradenan, Pemdes Mojorembun menggelar pemeriksaan kesehatan gratis di Balaidesa setempat.

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut disambut positif oleh warga masyarakat Desa Mojorembun yang kemarin menjadi korban banjir. Mereka antri bergantian memeriksakan keadaan tubuhnya ke petugas Puskesmas Menden yang membuka pos kesehatan di Balaidesa Mojorembun.

Suwarni, salah satu warga Desa Mojorembun yang rumahnya kemarin ikut terendam, saat ikut pengobatan gratis mengatakan bahwa dirinya senang dengan adanya pengobatan gratis pasca banjir. “Kami sangat terbantu dengan adanya pemeriksaan kesehatan ini. Ini tadi saya dapat oralit dan salep untuk obat rangen (kutu air-red),” kata Suwarni.

Warga korban banjir Desa Mojorembun bergantian memeriksakan kesehatannya
di posko Puskesmas Menden yang ada di Balaidesa setempat. (foto: fai-infoblora)
Sementara itu, Kepala Desa Mojorembun Moch Syaifudin Zuhri menyatakan bahwa dibukanya pos kesehatan gratis bersama Puskesmas Menden dilakukan untuk mengantisipasi timbulnya penyakit akibat banjir yang melanda desanya.

“Kami takut jika warga korban banjir terserang penyakit pasca banjir, sehingga Pemdes bekerjasama dengan Puskesmas mengadakan pengobatan gratis. Alhamdulillah warga sangat antusias mengikuti pengobatan hingga selesai pukul 14.00 WIB siang tadi,” ucap Moch Syaifudin Zuhri.

Sedangkan Rinto petugas Puskesmas Menden menerangkan hingga acara selesai, ada 73 warga yang memeriksakan kesehatannya ke Balaidesa Mojorembun. Kebanyakan warga korban banjir mengeluhkan sakit kutu air karena kemarin berjam-jam terendam luapan Kali Wulung.

Selain pemeriksaan kesehatan, Pemdes Mojorembun juga berharap ada bantuan sembako dan obat-obatan lainnya untuk menangani korban pasca banjir. Beberapa bantuan dari BPBD Blora sudah mulai berdatangan, dan siap dibagikan kepada warga.

Seperti diberitakan sebelumnya, ada ratusan rumah yang dihuni 237 KK di Desa Mojorembun yang tergenang banjir sejak Senin dini hari kemarin. Mereka bahkan kesulitan melakukan aktifitas ekonomi karena jalan penghubung desa terendam air hingga kedalaman 1 meter lebih.

Berdasarkan pantauan tim Info Blora pada Selasa siang (9/2), keadaan debit Kali Wulung yang kemarin sempat meluap kini berangsur-angsur surut meski sempat naik. Namun kenaikannya tidak mengakibatkan luapan separah Senin kemarin. (rifai/ag-infoblora)

Tanggul Bengawan Solo di Cepu Terancam Amblas Tergerus Air, Warga Ketakutan

Petugas Satgana, Tagana dan BPBD meninjau lokasi tanggul sungai
Bengawan Solo yang longsor, amblas tergerus arus di Desa Ngloram
Kecamatan Cepu. (foto: anton-infoblora)
BLORA. Derasnya arus air Sungai Bengawan Solo yang melintasi pinggiran wilayah Kecamatan Cepu beberapa hari terakhir ini ternyata menimbulkan potensi longsor pada tanggul. Khususnya di Desa Ngloram yang berbatasan langsung dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa ini.

Warga setempat pun ketakutan jika longsor terus terjadi, mengingat jarak sungai dengan wilayah pemukiman penduduk sangat dekat. Jika longsor tidak segera ditangani, mereka takut rumahnya ikut amblas terbawa arus sungai.

Seperti yang diungkapkan Poppy Andianto (23) warga Desa Ngloram, Kecamatan Cepu yang berharap agar dinas terkait segera melakukan tindakan darurat penanganan kebencanaan.

“Hari ini sudah ada tanggul yang longsor tergerus derasnya Sungai Bengawan Solo. Jika tidak segera ditangani, kami takut longsor akan melebar mendekati pemukiman warga,” ucap Poppy, Selasa (9/2).

Berdasarkan pantauan tim Satuan Tanggap Bencana (Satgana) dan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Kecamatan Cepu bersama petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora diperoleh keterangan bahwa benar telah terjadi longsor di tanggul Bengawan Solo yang berada di Desa Ngloram.

“Tanggul sepanjang kurang lebih 200 meter telah amblas tergerus arus Bengawan Solo, jika tidak segera ditangani kemungkinan bisa melebar mengingat arus sungai masih cukup besar. Kami terus melakukan patroli di sepanjang sungai untuk mengupdate kondisi terbaru agar bisa dilaporkan ke dinas terkait,” kata Komandan Satgana Cepu, Anton Moedji, Selasa (9/2).

Sementara itu Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Blora Sri Rahayu melalui salah satu stafnya yang ikut memantau titik longsor, Agung Triyono menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan kondisi lapangan terkait adanya tanggul yang tergerus arus Bengawan Solo.

“Kami sudah mendata, dan akan dilaporkan ke atasan agar bisa segera dilakukan langkah-langkah penanggulangan. Jika memang warga menginginkan adanya pembangunan tanggul, maka hal tersebut baru bisa dilakukan disaat arus sungai surut. Jika masih tinggi seperti ini akan kesulitan membangun tanggul kembali,” jelasnya. (tio-infoblora)

Terobos Banjir, BPBD Salurkan Bantuan Kepada Korban Bencana di Blora Selatan

Aksi tanggap bencana BPBD Blora menembus banjir guna menyalurkan bantuan kepada para korban yang terendam air. (foto: at-infoblora)
BLORA. Banjir bandang akibat luapan 2 anak sungai Bengawan Solo di Blora Selatan yakni Kali Glandangan di Kecamatan Kedungtuban dan Kali Wulung di Kecamatan Kradenan pada Senin (8/2) dini hari membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora langsung sigap melakukan langkah-langkah penanganan di wilayah terdampak bencana.

Bahkan pada Senin siang, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Blora, Sri Rahayu memimpin langsung penyaluran bantuan logistik kepada para korban banjir di beberapa desa yang ada di dua wilayah kecamatan tersebut. Diantaranya Desa Pucung, Desa Gondel, Desa Wadung (Kecamatan Kedungtuban), Desa Mojorembun serta Desa Sumber (Kecamatan Kradenan).

Saat menyalurkan bantuan ke Desa Gondel, rombongan Kalak BPBD harus menerobos derasnya arus banjir bandang yang mengalir di sepanjang jalan desa.

“Setelah mendapatkan laporan dari petugas di lapangan, kami langsung menyiapkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, air mineral, sembako, dll. Hari ini langsung kami salurkan ke korban bencana,” kata Sri Rahayu.

Kades Mojorembun, Moch Syaifudin Zuhri menerima bantuan dari BPBD Blora
untuk para korban bencana banjir di desanya. (foto: dok-zuhri)
Bantuan diterimakan kepada kepala desa (kades) dan perangkat desa masing-masing agar bisa dibagikan untuk warganya yang sedang dilanda banjir. “Jika dibagikan langsung ke warga akan menyita waktu, sehingga perwakilan perangkat desa dan kades yang menerima untuk selanjutnya diberikan ke warga,” lanjut Sri Rahayu.

Menurutnya bantuan ini tidak akan berhenti disini saja, pihaknya sedang melakukan pendataan jumlah korban banjir untuk dilaporkan ke Bakorwil I Pati dan BPBD Jawa Tengah. Harapannya nanti dari Bakorwil dan BPBD Provinsi juga akan memberikan bantuan ke Blora.

Kepada masyarakat yang masih tetap bertahan tinggal di rumah dekat aliran sungai, pihak BPBD menyampaikan  himbauannya agar selalu waspada terhadap tingginya curah hujan akhir-akhir ini.

“Awal Februari ini merupakan puncak musim hujan, sehingga kami minta masyarakat terus waspada. Jika terjadi keadaan kebencanaan yang mengancam, segeralah lapor ke Posko BPBD atau Satpol PP terdekat di Kecamatan. Sehingga petugas bisa sesegera mungkin melakukan penanganan,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu penerima bantuan yakni Kades Mojorembun Moch Syaifudin Zuhri saat menerima bantuan dari BPBD mengucapkan banyak terimakasih atas pertolongan yang diberikan untuk warganya.

“Terimakasih atas bantuan yang diberikan berupa mie instan, air mineral, makanan kaleng dan peralatan mandi. Semaksimal mungkin akan kami bagikan kepada seluruh korban banjir. Di desa kami ada ratusan rumah yang terendam banjir,” kata Syaifudin. (tio-infoblora)