BeritaSeo: JMP

Sejumlah Transportasi Terkena Imbas Operasional JMP

BERITA MALUKU. Sejumlah aktifitas transportasi baik laut dan darat terkena imbas paska persemian Jembatan Merah Putih (JMP) oleh Presiden Joko Widodo pada 4 April 2016. Seperti KMP fery dan perahu layar yang menghubungkan Poka - Galala serta angkutan kota (angkot) Galala sepi dari penumpang, kata perwakilan pemilik perahu, Felix Waran di Ambon, Kamis (14/4/2016).

Masyarakat lebih memilih melewati JMP dibandingkan Fery. Hal ini merugikan para pengayuh perahu yang setiap hari beroperasi karena tidak ada penumpang sejak JMP diresmikan.

Ia mengatakan, perahu layar Poka - Galala telah beroperasi sejak 1972 dan dijadikan ikon wisata Ambon.

"Kami mencari nafkah sehari-hari dengan menjual jasa penyeberangan perahu bagi para mahasiswa maupun masyarakat lainnya yang akan menyeberang ke dua kawasan tersebut," katanya.

Menurut dia, saat ini pihaknya sangat kesulitan dalam memperoleh penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, karena sebagian penumpang telah beralih menggunakan JMP.

"Pendapatan kami sebelumnya bisa mencapai Rp100 ribu/, saat ini menurun drastis mencapai Rp30 ribu/hari," kata Felix.

Belum lagi terkendala dengan operasional perahu ketintin ilegal yang mengangkut penumpang dari pelabuhan fery serta pantai Hative Kecil.

"Perahu ketinting memanfaatkan tidak beroperasionalnya KMP dengan mengangkut para penumpang yang akan menyeberang ke Poka dan sebaliknya," ujarnya.

Para pendayung perahu meminta Pemkot Ambon untuk menghentikan operasi perahu ketinting, serta memperhatikan izin trayek speed boat di pantai Mardika.

"Kehadiran dua transportasi tersebut menggangu pencaharian yang ditekuni bertahun - tahun. Kami sudah terkendala dengan JMP jangan lagi terganggu dengan yang lainnya. Kami mau menafkahi keluarga bagaimana jika tidak ada penumpang yang menggunakan jasa perahu," tandas Felix.

Para pendayung merupakan warga kota Ambon dari berbagai suku dan agama yang berbaur untuk mencari nafkah dengan menjual jasa penyeberangan perahu layar tradisional.

Antisipasi Kecelakaan di Atas JMP, BMKG Sarankan Pemasangan Anemometer

BERITA MALUKU. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pattimura Ambon mengingatkan perlunya memasang peralatan pengukur arah dan kecepatan angin (anemometer) di Jembatan Merah Putih (JMP) guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, George Mahubessy, di Ambon, Senin (11/4/2016), mengatakan, pemasangan anemometer strategis untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang memanfaatkan JMP.

Pertimbangannya, JMP melintasi Teluk Dalam Ambon sepanjang 1,06 kilometer. JMP terdiri dari jembatan pendekat arah Galala sepanjang 300 meter, pendekat arah Poka 320 meter dan bentang tengah 300 meter, tinggi pylon 89,5 meter dan lebar 22,5 meter yang dibagi dua jalur.

Ketinggian JMP ini kurang lebih 30 meter dan lebih tinggi dari Suramadu.

"Jadi berdasarkan pengalaman kecelakaan di Suramadu yang terjadi kecelakaan sepeda motor terlempar keluar dari jembatan akibat melintasinya saat kecepatan angin tinggi, maka itu hendaknya diantisipasi di JMP," ujar George.

Apalagi, posisi JMP yang ada di atas laut dan tanpa hambatan gedung di sekelilingnya, membuat kekuatan angin di sana bisa jauh lebih kuat.

"Harus diperhatikan, di Maluku bila memasuki musim hujan atau timur, kekuatan angin relatif lebih kencang dan bila tidak diantisipasi bagi pengendara kemungkinan besar menyebabkan kecelakaan," katanya.

George mengemukakan, dengan ketinggian JMP yang melintasi Teluk Dalam Ambon, maka kecepataan angin bervariasi 10 - 20 KM/jam.

Namun bila dimusim hujan dan atmosfer mengandung banyak awan comulunimbus, maka kecepatan angin bisa mencapai 40 KM/jam.

"Kecepatan angin 40 KM/jam, relatif berbahaya bagi pengendara sepeda motor karena kemungkinan bisa terlempar," tandasnya.

George juga menyoroti penataan jalur jalan di JMP karena belum ada pembatasan sepeda motor dan mobil disatukan karena saat kekuatan angin yang tidak bisa ditoleransi, maka kemungkinan bertrabrakan.

"BMKG Stasiun Pattimura pernah mencatat kondisi dengan kecepatan angin mencapai 65 KM melintasi Teluk Dalam Ambon sehingga ini harus diantisipasi sejak dini," tegasnya.

Tujuan pembangunan JMP untuk mempercepat jarak tempuh ke pintu keluar Bandara Internasional Pattimura, serta kawasan Jazirah Leihitu, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, sehingga diharapkan bisa mengurangi tingkat kepadatan kendaraan.

Begitu pun, untuk menunjang pengembangan fungsi kawasan di Teluk Ambon sesuai dengan Tata Ruang Kota Ambon, khususnya Poka-Rumah Tiga sebagai kawasan pendidikan dan Durian Patah - Telaga Kodok sebagai kawasan pemukiman.

JMP juga menunjang sistem jaringan jalan yang telah ada, khususnya jazirah Leihitu serta mempersingkat jarak dan waktu tempuh kendaraan (mengurangi biaya operasi) menuju Bandar Udara Internasional Pattimura di Laha sebagai pintu keluar ke provinsi lainnya.

JMP Dijadikan Arena Carfree Day Setiap Minggu

BERITA MALUKU. Jembatan Merah Putih (JMP) membawa ciri khas tersendiri di hati masyarakat kota Ambon, Maluku. Apalagi JMP saat ini sudah menjadi icon dan kebangaan masyarakat di kota berjulukan "manise" ini.  

Keindahan teluk dan kota Ambon bisa nampak dari jembatan yang dikerjakan sejak tahun 2011. Hal ini tentu menarik perhatian seluruh masyarakat kota Ambon, Maluku terutama untuk berfoto ria sertai melakukan berbagai aktifitas diatas jembatan terpanjang di Indonesia Timur.

Antusias masyarakat kota Ambon untuk berkunjung di JMP mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi Maluku. Pemerintah pun lalu merencanakan agar ada kegiatan di JMP pada setiap hari Minggu, yakni carfree day atau hari bebas berkendara.

“Carfree day dilaksanakan setiap hari Minggu, mulai pukul 06.00 – 10.00 , setelah itu ditutup kembali, dan dibuka bagi kendaraan roda empat maupun roda dua,” kata Kepala Dinas Perhubungan Maluku Benny Gaspersz, saat menggelar konferensi pers di lantai II Kantor Gubernur Maluku, Rabu (6/4/2016).

Menurutnya, hari bebas kendaraan ini direspon secara baik oleh Gubernur Maluku, Said Assagaff, yang mendukung sepenuhnya kegiatan ini.

Dilain sisi, Kepala Satker JMP, Kres Lasmono mengungkapkan, bahwa saat ini JMP akan kembali ditutup, yakni mulai hari ini, Rabu (6/4/2016), dengan alasan ada beberapa pendukung pembangunan JMP harus dibongkar, salah satunya adalah tower crane yang saat ini masih berada tiang bentang JMP.

“Pembongkaran tower crane ini memakan waktu 4 – 5 hari dan paling lambat satu minggu. Tergantung cuaca, karena hal ini menyangkut dengan keselamatan pekerja,” ucapnya.

Dijelaskan, selain pembongkaran tower crane, juga akan dilakukan pemasangan marka jalan dan rambu lalu lintas, diantaranya, dilarang berhenti sebanyak 32 buah, rambu hati-hati 10 buah, rambu dilarang pejalan kaki naik ke jembatan 2 buah, rambu dilarang masuk 2 buah, rambu petunjuk ara roda dua dan empat, rambu batas kecepatan roda dua maksimal 40 Km/jam dan maksimum 60 km/jam.

“Walaupun pekerjaan belum selesai, namun mulai hari minggu ini sudah dibuka untuk hari bebas kendaraan, dan selanjutnya akan ditutup kembali untuk pekerjaan lanjut,”tuturnya.

Kata Lesmono, setelah semua selesai dikerjakan sesuai batas waktu, maka akan dibuka kembali untuk umum yang diperuntukan untuk kendaraan roda dua dan roda empat.

Pasca Peresmian JMP, Fery Galala-Poka Sepi

BERITA MALUKU. Kapal motor penyeberangan feri milik PT ASDP yang melayari rute Galala-Poka di Teluk Ambon, bisa dioperasikan ke daerah lain di Maluku yang masih minim sarana transportasi perhubungan laut.

"Pasca peresmian Jembatan Merah Putuh (JMP) atau jembatan Marthafons oleh Presiden Jokowi, angkutan kapal penyeberangan feri Galala-Poka sepi total sehingga bisa dialihkan ke daerah yang lebih membutuhkan," kata anggota DPD RI Ana Latuconsina di Ambon, Rabu (6/4/2016).

Provinsi Maluku terdiri dari sembilan kabupaten dan dua kota yang secara geografis wilayahnya terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil, namun faktanya masih terkendala moda perhubungan laut.

Menurut Ana, jembatan penghubung yang telah diresmikan kepala negara ini sudah dimanfaatkan warga untuk melintas karena waktunya lebih singkat dan tidak terhalang kemacetan.

Selama ini warga Kota Ambon yang hendak pergi ke bandara atau sebaliknya dengan kendaraan roda dua maupun roda empat harus antre menunggu kapal feri dan memakan waktu cukup lama.

"Tetapi sekarang dengan melintasi JMP, waktu tempuhnya lebih singkat untuk cepat tiba di tempat tujuan," katanya.

Maka keberadaan kapal feri di jalur penyeberangan Galala-Poka harus dipertimbangkan kembali untuk dialihkan ke kabupaten atau kota di Maluku yang sangat membutuhkannya.

Sama halnya dengan perahu sampan atau 'Taxi Laut' yang melayari rute Galala-Poka bisa dipertahankan keberadaannya untuk kegiatan pariwisata.

Tower Crane Jadi Faktor JMP Belum Bisa Dilewati Secara Umum


BERITA MALUKU. Walaupun Jembatan Merah Putih (JMP) sudah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Senin (4/4/2014), namun jembatan yang menghubungkan desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon dan Galala, Kecamatan Sirimau, ini belum bisa dibuka secara umum.

Menurut Kres Lesmono, Kepala Satker JMP, bahwa penutupan JMP ini dilakukan, mengingat masih ada sejumlah tower crane yang sampai saat ini belum dibongkar.

“Secara teknis jembatan sudah selesai dan bisa dilewati, namun kami meminta waktu,  karena di lapangan masih ada tower crane yang belum dibongkar,” ujarnya.

Dijelaskan, untuk membongkar tower crane pihaknya memerlukan jangka waktu satu minggu.

Jika tower crane ini sudah selesai dibongkar, baru bisa di buka untuk umum.

“Kita mengusahakan agar pembongkaran tower crane bisa diselesaikan secepatnya, seuingga lebih cepat JMP bisa digunakan,” ucapnya.

Dirinya memastikan, secara fisik jembatan terpanjang di Indonesia Timur itu sudah selesai ditambah dengan hasil uji beban yang sudah memenuhi syarat.  Hal ini membuktikan bahwa untuk fisik JMP tidak ada lagi masalah apapun, selain pembongkaran tower crane.

Lesmono menjelaskan, hari ini pihaknya di undang Gubernur Maluku, Said Assagaff untuk melakukan koordinasi dengan pihak perhubungan, lantas dan Satpol PP.

Koordinasi ini dilakukan sesuai  arahan dari pimpinan di Jakarta, untuk meminta jaminan dari pemerintah daerah dalam hal pengawasan secara khusus selama 24 jam, sambil menunggu pengamanan CCTV.

“Selama belum ada CCTV harus ada jaminan dari pemerintah daerah, ditambah dengan pengamanan yang harus dilakukan oleh Satpol PP,” tuturnya.

Dirinya menegaskan, bahwa untuk saat ini tidak dizinkan warga untuk berdiri atau berjalan di atas jembatan.

Dijelaskan juga soal tarif untuk yang melintas di JMP.

“Untuk tarif, sesuai instruksi Gubernur gratis,” tuturnya.

Hujan Tidak Menghambat Presiden Jokowi Resmikan JMP di Ambon

BERITA MALUKU. Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya Jembatan Merah Putih (JMP) diresmikan secara langsung oleh Presiden Ri Joko Widodo, didampingi Menteri Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadi Mulyono, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Michael Wattimena dan Gubernur Maluku, Said Assagaff, yang berlangsung di bentang tengah JMP, Senin (4/4/2016).

Peresmian jembatan penghubung antara Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon–Desa Galala, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon berlangsung lancar meski disertai hujan dan angin kecang.

Presiden dalam sambutannya mengatakan, diresmikannya jembatan penghubung Teluk Ambon ini akan menjadi ikon parawisata baru di kota Ambon. Dimana keindahan kota Ambon akan semakin manise lagi dengan adanya JMP.

“Bukan hanya masyarakat kota Ambon, Maluku yang menikmati jembatan ini, melainkan masyarakat luar juga akan menikmati jembatan yang dibanggakan oleh masyarakat Maluku, dan secara luas Indonesia,” ujarnya. 

Dijelaskan, dengan pembangunan yang semakin maju, akan semakin menarik investor datang ke Ambon, Maluku, untuk menanamkan sahamnya.

“Yang pastinya jembatan ini akan menjadi kembanggaan bagi masyarakat kota Ambon, Maluku dan secara luas Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Maluku, Said Assagaff dalam sambutannya, mengatakan kedatangan Presiden di kota Ambon untuk meresmikan JMP, merupakan bukti nyata bahwa Presiden sangat memperhatikan kawasan timur termasuk Maluku. Dimana kunjungan ini menjadi motivasi bagi masyarakat Maluku untuk mengelorakan semangat membangun Maluku dan secara luas Indonesia.

“Karena itu saya sangat yakin Presiden akan terus mendatangi kami di Maluku, termasuk menghadiri hari Pers Nasional di kota Ambon Manise di tahun 2017 mendatang,”ujarnya. 

Kata Assagaff, JMP telah menjadi solusi dalam banyak aspek dalam pengembangan dan kemjauan Ambon Maluku, diantaranya solusi penataan dalam fungsi teluk ambon dalam desain tata ruang Ambon akan dikembangkan untuk pengembangan wilayah dan pembangunan sektor vital.

Jelasnya, JMP yang dibangun sejak 17 Juli 2011 oleh Kementrian PUPR dalam hal ini, Direktorat Jenderal Bina Marga menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Rp. 700 miliar. Dimna JMP memiliki panjang 1,7 kilometer dari pantai poka, lebar 22,50 meter, terbagi dalam tiga bagian, jembatan pendekat di sisi Desa Poka sepanjang 520 meter dan jembatan pendekat dari sisi Desa Galala sepanjang 320 meter dengan anggaran. Rp. 273.447.900.000, serta dan jembatan utama sepanjang 300 meter dengan anggaran Rp. 458.130.260.000, yang merupakan  tipe jembatan khusus, mulai dari system beruji kabel dengan jarak antar pilon sepanjang 150 meter, ruang bebas 34,109 meter dan maksimu grade 6,5 persen dengan data-data seperti itu, JMP menjadi jembatan terpanjang di Indonesia Timur.

Menurutnya, ada sejumlah manfaat JMP, yaitu jembatan dapat meningkatkan interaksi sosial masyarakat kota Ambon khsusunya dan Maluku pada umumnya.

Dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi lalu lintas, jarak tempuh antara kota Ambon - Bandara Pattimura dan sebaliknya yang memakan waktu hingga 60 menit dapat menjadi 30 menit setelah adanya jembatan. Mengatasi kemacetan lalu lintas yang terjadi di sekitar poka selama ini terutama pada waktu-waktu tertentu, diharapkan pula teratasi. Dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi terutama kelancaran lalu lintas perdagangan di bidang kelautan dan perikanan, serta dapat menjadi ikon baru di kota Ambon, Maluku.

“Saya menghimbau kepada seluruh warga kota Ambon dan secara luas Maluku dapat menjaga aset baru ini dengan baik. Mari kita gunakan jembatan ini dengan baik dan saya berharap jembatan dapat benar-benar bermanfaat bagi kemajuan dan kemakmuran kita di Maluku,” harapnya.  

Setelah meresmikan JMP, Presiden beserta rombongan langsung menuju Bandara International Pattimura menuju Papua.

Hari Ini Presiden Jokowi Resmikan Jembatan Merah Putih

BERITA MALUKU. Hari ini, Senin (4/4/2016), Presiden RI Joko Widodo meresmikan Jembatan Merah Putih (JMP), yang telah dikerjakan sejak tahun 2011 lalu. 

Kepastian peresmian JMP disampaikan Kepala Bagian (Kabag), Biro Umum Pemda Maluku, Boby Palapia, pada Minggu (3/4/2016).

Menurut Palapia, kedatangan Presiden beserta rombongan di Ambon disambut oleh Gubernur, beserta Muspida tingkat I dan II.

Kedatangan Presiden di daerah ini kata Palapia, langsung direspon secara cepat oleh Pemerintah Provinsi Maluku dengan mengadakan rapat yang dipimpin Gubernur, dihadiri Kapolda Maluku, Ilham Salahudin, Pangdam XVI Pattimura, Mayjen TNI Monardo, Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, Anthon Hutabarat dan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Provinsi Maluku, berlangsung di lantai II kantor Gubernur Maluku.

“Rapat itu dilaksanakan untuk mempersiapkan hal-hal teknis dalam kedatangan orang nomor satu di Negara ini,” ucapnya.

Mengenai rencana Presiden untuk meresmikan pelabuhan Tutu Kembong, Desa Tutu Kembong, Kabupaten Maluku Tenggara (MTB), kata Palapia sesuai agenda Presiden tidak lagi menuju ke Saumlaki.

“Presiden tiba di Ambon untuk meresmikan JMP dan selanjutnya berangkat ke Papua,”ucapnya.

Untuk diketahui, jembatan terpanjang di Indonesia timur ini dikerjakan oleh tiga kontraktor, yaitu PT Waskita Karya (Persero), PT Pembangunan Perumahan (Tbk), dan PT Wijaya Karya (Tbk).

Penandatanganan kontrak untuk pembangunan jembatan ini dilaksanakan di Kementerian Pekerjaan Umum, pada 27 Juli 2012.

Proyek senilai Rp416,76 miliar direncanakan dibangun dalam waktu 870 hari, terhitung sejak pengerjaan pertama pada Agustus 2011. Namun, target penyelesaian ternyata molor hingga 2016.

Jembatan ini memiliki total panjang mencapai 1,06 kilometer dengan menghubungkan wilayah Desa Galala dan Poka.

Jembatan dibangun dengan tipe struktur cable stayed dengan panjang bentang tengah 300 meter, terdiri dari bentang utama 150 meter, dan dua bentang pendamping masing-masing 75 meter. Tinggi pilar beton 80 meter dan lebar jembatan 21,5 meter.