BeritaSeo: Lingkungan

Pemprov Maluku Upayakan Tekan Emisi Gas Rumah Kaca

BERITA MALUKU. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah mengalami peningkatakan 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.

Meningkatknya gas-gas rumah kaca juga dirasakan di Indonesia, sehingga dalam tahun 2020 ini Pemerintah Pusat (Pempus) untuk menekan emisi rumah kaca menjadi 26 persen.

Sejalan dengan target Pempus, Provinsi Maluku juga terus mengupayakan menekan emisi gas rumah kaca yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.

"Kami siap mendukung program pemerintah pusat, apalagi ini sudah tercantum di Peraturan Presiden nomor 71 tahun 2011 tentang Inventarisasi Nasional Gas Rumah Kaca," kata Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Maluku, Fera Tomasoa.

Dikatakan, Peraturan Pemerintah Nomor 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) dan Peraturan Presiden Nomor 71 tahun 2011 tentang Inventarisasi Nasional GRK, merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan tercapainya target nasional menurunkan emisi GRK.

Menurutnya, secara nasional hingga level daerah, dituntut dan berupaya mendesain bagaimana mencapai target nasional dalam mengurangi emisi karbon. Dalam mencapai target itu, bisa dilakukan lewat berbagai program daerah.

Diejalaskan, untuk Maluku telah diupayakan sejak beberapa tahun silam yang dituang dalam dokumen Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK).

Meskipun diakuinya, Maluku tidak termasuk dalam tujuh provinsi penyumbang emisi, namun sebagai bagian dari NKRI, Maluku harus terlibat dalam penurunan target tersebut.

Ambon dan Buru Masuk Program Reboisasi Dishut

BERITA MALUKU. Tahun 2016 ini, kota Ambon dan Buru masuk dalam program reboisasi, Dinas Kehutanan Provinsi Maluku.

“Kabupaten Buru kita lakukan di Kawasan Hutan Produksi (KPH) sedangkan di kota Ambon kita laksanakan di kawasan Leitimur," kata Kepala Bidang perlindungan hutan dan konservasi, Dinas Kehutanan Maluku, Sandy Luhulima, Selasa (19/4/2016).

Reboisasi yang dilaksanakan Dishut untuk menanam kembali hutan yang telah ditebang dan tandus atau gundul.
Menurut Luhulima, reboisasi di kedua wilayah itu berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dengan cara menyerap polusi serta debu dari udara, kemudian membangun kembali habitat serta ekosistem alam, selain itu mencegah pemanasan global dengan cara menangkap karbon dioksida dari udara, serta dapat dimanfaatkan hasilnya terutama kayu.

“Untuk itu saya berharap, reboisasi yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan sumber daya alam yang ada di kedua kawasan,” ucapnya.

Sebelumnya, reboisasi hutan dilakukan oleh Dishut di negeri lima, kecamatan Leihitu, kabupaten Maluku Tengah yang hancur akibat jebolnya dam Way Ela pada tahun 2011 silam.

“Jadi kita memberikan tanaman kepada masyarakat untuk menanam secara langsung, sedangkan kita hanya mengawasi hasil tanaman masyarakat, dan kalau ada tanaman yang rusak maka kita memberikan tanaman baru untuk kembali ditanam,” tuturnya.

Dirinya berharap, reboisasi yang dilakukan akan memulihkan hutan baik di Ambon maupun di Buru.

Luhulima Akui Sudah Lakukan Reboisasi Hutan Negeri Lima

Ilustrasi
BERITA MALUKU. Kepala Bidang perlindungan hutan dan konservasi, Dinas Kehutanan Maluku, Sandy Luhulima mengakui bahwa pihaknya sudah melakukan reboisasi hutan Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah yang rusak akibat bobolnya dam Way Ela 2011 silam.

“Kita sudah melakukan reboisasi sejak Desember 2015 lalu, dimana reboisasi tersebut dilakukan di wilayah longsor,” kata Luhulima saat dihibungi media ini via-telephone, Senin (18/4/2016). 

Dikatakan, untuk reboisasi pihaknya tidak melakukan secara langsung, namun pihaknya menyerahkan pohon kepada masyarakat untuk ditanam, dan kemudian diawasi oleh Dinas Kehutanan.

“Untuk jarak tanam secara keseluruhan mencapai 10 hektar,” ucapnya.

Menurutnya, walaupun reboisasi dilakukan oleh masyarakat sendiri, tetapi pihaknya akan tetap mengawasi, untuk mengatisipasi kendala yang dihadapi oleh masyarakat dalam pelaksanaannya.

“Jika ada pohon yang mati maka langsung diganti dengan pohon lainnya, sehingga tidak menjadi kekosongan di lokasi yang ditanam,” tuturnya.

Dirinya berharap, reboisasi yang dilakukan akan memulihkan hutan negeri lima yang habis akibat jebolnya dam Way Ela.

Pertamina EP Cepu Ajak Pelajar Lakukan Penghijauan di Lingkungan Sekolah

Pertamina EP 4 Cepu menanam pohon bersama pelajar di Kecamatan Cepu, Blora. (foto: aiz-sm)
BLORA. PT. Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 4 Field Cepu menghijaukan sejumlah sekolah SMA/sederajat di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, melalui program menanam pohon. Selain tanam pohon, para siswa juga dilatih menulis.

Tidak hanya ditanam di kawasan sekolah, sejumlah siswa juga membawa pulang tiga bibit pohon matoa itu dan ditanam di sekitar rumah masing-masing. Mereka juga dibekali pupuk agar tanaman tersebut bisa tumbuh dengan baik.

‘’Pertamina menggandeng sekolah dan para siswa untuk peduli lingkungan,’’ ujar Staf Humas Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Yonata, saat pencanangan program tersebut di SMK Muhammadiyah Cepu.

Perwakilan Koramil dan Polsek Cepu turut hadir dalam pencanangan tersebut.
Menurut Yonata, tak hanya program penghijauan, PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu juga berupaya membekali siswa dengan kemampuan menulis di kegiatan tersebut. Karena itu, Pertamina menggandeng sejumlah wartawan untuk menyampaikan materi pelatihan menulis.

‘’Karya tulis feature para siswa nantinya akan dilombakan hingga ke tingkat nasional. Tema tulisan terkait dengan kegiatan penghijauan ini,’’ kata Muharrom, salah seorang panitia program Menanam dan Menulis.

Istain, perwakilan guru SMK Muhammadiyah 1 Cepu menyambut baik kegiatan yang diadakan Pertamina tersebut. Menurutnya, menanam dan menulis adalah satu paket kegiatan yang bermanfaat bagi siswa. 

‘’Ini salah salah wujud kepedulian kepada lingkungan. Semoga kegiatan ini bisa berlanjut barangkali dengan MoU,’’ tandasnya. (Aiz-SMNetwork | Jo-infoblora)

Debit Bengawan Solo Mulai Naik, Satgana & BPBD Blora Giatkan Patroli Sungai

Komandan Satgana PMI Kecamatan Cepu, Anton Moedji bersama rekannya saat memantau debit air Bengawan Solo di Jembatan Cepu-Padangan, Rabu (3/2) tadi. (foto: ag-ib)
BLORA. Hujan deras yang turun di wilayah hulu Bengawan Solo diantaranya Solo, Karanganyar, Sragen, Madiun, Ngawi dan sekitarnya sejak kemarin membuat debit air sungai terpanjang di Pulau Jawa ini mengalami kenaikan signifikan.

Info dari BPBD menunjukkan bahwa pagi tadi di papan pantau Jurug Solo debit air mencapai angka 84,34 m dengan kategori siaga kuning. Begitu pula di DAS Bengawan Solo wilayah Kabupaten Blora yang melintasi Kecamatan Kradenan, Kedungtuban dan Cepu juga mengalami kenaikan muka air.

Menyikapi kondisi tersebut, Satuan Tanggap Bencana (Satgana) PMI Kecamatan Cepu dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora pada Rabu pagi (3/2) langsung menggiatkan patroli sungai untuk mengecek kondisi ketinggian muka air dari bibir tanggul.

Permuakaan air Bengawan Solo meskipun naik tetapi masih dalam batas aman.
(foto: ag-ib)
Anton Moedji, Komandan Satgana PMI Kecamatan Cepu mengatakan bahwa setelah menerima kabar air Bengawan Solo di wilayah hulu mulai naik, pihaknya bersama anggota Satgana lainnya langsung turun ke lapangan untuk mengecek potensi kenaikan di tanggul sungai yang ada di Cepu.

“Mengantisipasi potensi banjir luapan, ini tadi bersama Mas Eko Nupiyanto Divisi Asessment dan Evakuasi langsung ke tanggul mengecek ketinggian air Bengawan di bawah Jembatan Cepu-Padangan. Meskipun air sudah naik dari kiriman wilayah hulu, namun di Cepu ini masih dikatakan aman karena permukaan air masih dibawah batas siaga kuning,” kata Anton.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan BPBD Blora untuk melakukan patroli secara berkala agar jika terjadi potensi banjir luapan bisa diminimalisir dampak kebencanaannya. Sehingga masyarakat yang berada di pinggiran sungai bisa lebih dahulu dikondisikan.

Sementara itu, petugas BPBD Blora pemantau wilayah Sambong, Cepu, Kedungtuban dan Kradenan, Agung Triyono pada Rabu (3/2) juga melakukan patroli memantau ketinggian air Bengawan Solo mulai dari Cepu hingga Kradenan.

“Hingga Rabu sore, ketinggian air Bengawan Solo di wilayah Kabupaten Blora masih terkondisi aman. Tinggi muka air rata-rata masih dibawah bibir tanggul sekitar 3 sampai 4 meter. Kami akan terus melakukan patroli jika sewaktu kiriman air dari hulu kembali datang,” ujarnya.

Meskipun masih aman, ia mengimbau kepada warga masyarakat yang tinggal di pinggiran Sungai Bengawan Solo untuk tetap waspada. Khususnya wilayah DAS Bengawan Solo yang belum ada tanggul penguatnya seperti di Desa Gadon, Nglanjuk, Sumberpitu dan Getas. Dimana wilayah tersebut kerap menjadi daerah banjir dikala Bengawan Solo meluap. (ag-infoblora)

Hijaukan Bumi Blora, Perhutani KPH Randublatung Siapkan 1,2 Juta Lebih Bibit Pohon

Seorang petugas Perhutani KPH Randublatung sedang memeriksa persemaian bibit pohon jati. (foto: rs-ib)
BLORA. Menghadapi musim tanam tahun 2016, Perum Perhutani KPH Randublatung kini telah menyiapkan bibit tanaman kehutanan sebanyak 1.277.002 bibit, yang terdiri atas jenis jati dan tanaman rimba lainnya.

Kepala Seksi Perencanaan Sumber Daya Hutan dan Lingkungan Perhutani KPH Randublatung, Rani Maharto menjelaskan, untuk tahun ini KPH Randublatung akan menanam pohon di kawasan hutan seluas 983,9 ha. Masing-masing terdiri dari tanaman jati seluas 886,9 ha. ”Sementara penanaman di Kawasan Perlindungan Setempat ( KPS ) seluas 97 ha,” jelasnya.

Tanaman jati yang ditanaman tersebut berasal dari varietas Jati Plus Perhutani ( JPP ) Stek Pucuk seluas 983,9 ha. ”Luas tanaman JPP tersebut dilakukan dengan pola silvikultur intensif. Dalam pola tersebut tanaman akan mendapatkan perlakuan dangir, pemupukan dan perawatan lanjutan lainnya, dan syarat mutlak JPP pada lokasi tersebut harus dilakukan dengan cara tumpangsari,” jelas Rani.

Dikemukakan, peran sosial Perhutani akan kelihatan jelas bagi masyarakat, karena dalam sistem tumpangsari tersebut akan melibatkan masyarakat desa hutan untuk melakukan aktivitas penanaman palawija jagung maupun jenis lain di lahan tanaman jati muda.

Sedangkan untuk kawasan KPS, lanjutnya, akan ditanam jenis rimba campur yang terdiri dari jenis mahoni, johar, salam dan sejumlah tanaman lainnya.

”Untuk keperluan itu semua, saat ini akan membutuhkan bibit sebanyak 1.277.002, dan telah disiapkan dilokasi persemaian milik Perhutani KPH Randublatung,” kata Rani Maharto.

Disinggung tentang kapan pelaksanaan penanaman massal tersebut, pihaknya belum bisa memastikan tanggal dan hari penanamannya. “Hingga saat ini kami sedang fokus mempersiapkan lahan dan pengadaan bibit tanaman. Untuk penanamannya nanti akan dilakukan sesegera mungkin setelah semuanya siap, dengan melibatkan masyarakat desa hutan sekitar,” pungkasnya. (Ud-SM | Jo-infoblora) 

Air Terjun Kedung Mansur, Potensi Wisata Alam Blora Milik Perhutani Terbengkalai

Salah satu warga Blora yang mengunjungi air terjun Kedung Mansur, kemarin.
(foto: tio-ib)
BLORA. Jika menjelajah ke pedalaman hutan Kabupaten Blora, sebenarnya ada banyak potensi wisata alam yang bisa dikembangkan menjadi objek wisata alternatif untuk menghilangkan rasa penat dikala akhir pekan datang. Namun sayangnya potensi wisata alam milik beberapa KPH Perhutani di Blora ini banyak yang belum tergarap dengan baik.

Seperti yang dijumpai oleh Info Blora saat berkunjung ke air terjun Kedung Mansur yang berada di wilayah BKPH Temanjang, Perhutani KPH Randublatung, Minggu (31/1). Dimana secara administratif masuk wilayah Desa Jatisari Kecamatan Banjarejo Blora. Ternyata keadaan air terjun jauh dari kesan pengelolaan yang bagus, bisa dikatakan terbengkalai. Luput dari perhatian Perhutani selaku pemilik lahan.

Akses untuk menuju lokasi air terjun setinggi 10 meter ini pun harus ditempuh dengan waktu 1 jam melewati jalan Perhutani yang berbatuan, membelah hutan KPH Randublatung untuk menuju Desa Jatisari. Lokasinya berada di selatan Kota Blora berjarak sekitar 20 km.

Paling mudah melewati Jl.Blora-Randublatung km 10, setibanya di pertigaan pos hutan Semenggah belok kanan masuk jalan Perhutani yang kondisinya berbatuan sejauh 5 km. Sesampainya di pertigaan pos perhutani, ambil kiri arah Desa Jatiklampok dan Desa Jatisari. Disini akses jalan sudah lumayan bagus berupa blok beton 2 lajur, sedangkan jalan di dalam desa sudah beraspal.

Air terjun Kedung Mansur sendiri berada di selatan Desa Jatisari, tepatnya di selatan Pos Perhutani BKPH Temanjang. Berdekatan dengan Wisma Temanjang, sebuah komplek agrowisata milik perseorangan yang di dalamnya juga terdapat sebuah sendang atau sumur tua.

Menurut Warso (65) salah satu penjaga Wisma Agro Wisata Temanjang milik Sumindar seorang pengusaha sukses asal Blora yang kini berada di Surabaya, mengatakan bahwa air terjun Kedung Mansur merupakan aset milik Perhutani KPH Randublatung.

“Air terjun ini milik Perhutani. Dahulu banyak dikunjungi warga untuk menikmati suasana alam bahkan tak jarang pengunjung menyempatkan mandi di bawah air terjun. Namun hingga saat ini tidak ada penataan dan pengelolaan yang serius dari Perhutani. Minim fasilitas sehingga semakin sepi. Akses menuju air terjun pun harus lewat komplek Wisma Agro Wisata Temanjang milik Pak Mindar ini,” ucap Warso.

Sementara itu, Riyo (24) salah satu pengunjung yang saat itu berada di air terjun Kedung Mansur berharap agar kedepan Perhutani KPH Randublatung bisa mengelola potensi wisata alam ini dengan baik.

“Kalau tidak bisa mengelola sendiri, ya dikerjasamakan dengan Dinas Periwisata milik Pemkab sehingga bisa menjadi alternatif wisata alam kehutanan. Apalagi lokasi air terjun ini juga tidak jauh dengan situs budaya Jati Gong dan Jati Denok yang dikenal sebagai situs pohon jati raksasa berusia ratusan tahun,” harapnya. (tio-infoblora)

Peduli Lingkungan, Kodim 0721 dan Pemkab Blora Tanam 20 Ribu Bibit Pohon

Pj.Bupati Blora Ihwan Sudrajat menanam bibit pohon di lapangan Desa Adirejo Kecamatan Tunjungan didampingi Dandim, Danyon Alugoro 410 dan jajaran Forkopimda. (foto: gie)
BLORA. Sekitar 20 ribu lebih pohon ditanam seluruh personel TNI baik dari Kodim 0721/Blora, Yonif 410/Alugoro serta para pelajar, mahasiswa dan masyarakat di seluruh Blora.

Gerakan penanaman pohon itu dilakukan dengan cara padat karya dan dipusatkan di area lapangan sepak bola Desa Adirejo Kecamatan Tunjungan Blora, kemarin.

Selain di Adirejo, ribuan pohon tersebut diserahkan kepada masing-masing Koramil agar ditanam di lahan gundung baik itu turus jalan ataupun pekarangan rumah yang masih kosong. Harapannya, lingkungan menjadi lebih teduh dan banyak pohon.

Pejabat (Pj) Bupati Blora Ihwan Sudrajat yang ikut menanam langsung satu pohon mengatakan, program penghijauan yang digagas oleh Kodim 0721/Blora merupakan upaya yang luar biasa. Hal itu harus diteruskan instansi lain agar Blora menjadi hijau di semua tempat.

“Atas nama Pemerintah kabupaten Blora menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kodim 0721/Blora yang telah menggalakkan program penghijauan,” ujar Ihwan.

Pj Bupati kemudian secara simbolis selain menyerah sejumlah bibit jati, matoa, mahoni, jambu air, sukun dan trembesi kepada perwakilan dari masyarakat serta pelajar dan mahasiswa.

Masih menurut Pj Bupati Blora Ihwan Sudrajat, saat ini  upaya penyelamatan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan melalui konservasi tanah dan air,  serta melalui reboisasi dan penghijauan sudah tidak dapat ditunda-tunda lagi. 

“Semoga pohon yang kita tanam hari ini dapat menghasilkan manfaat dan membawa kemaslahatan bagi kehidupan bersama,” tandasnya. (gie-SM | Jo-infoblora)